RELUNG.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan menyatakan seluruh 14 Zona Musim (ZOM) di Provinsi Sumatera Selatan telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah menguatnya fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi kering.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan hingga Dasarian I Juli 2026, seluruh wilayah musim di Sumsel telah memenuhi kriteria klimatologis memasuki musim kemarau.
“Seluruh 14 Zona Musim di Sumatera Selatan telah memasuki musim kemarau. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan aktifnya El Niño yang berpotensi mengurangi curah hujan di wilayah Sumatera Selatan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin.
Berdasarkan hasil monitoring iklim global, Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada Dasarian I Juli 2026 tercatat sebesar -0,224, sedangkan nilai bulanannya mencapai -0,387.
Kondisi tersebut masih berada pada kategori netral dengan kecenderungan menuju fase negatif sehingga pengaruhnya terhadap pola hujan di Sumatera Selatan dinilai belum signifikan.
Sebaliknya, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan penguatan yang cukup nyata. Nilai anomali suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature Anomaly/SSTA) di wilayah Niño 3.4 tercatat mencapai +1,88 derajat Celsius pada Dasarian I Juli 2026, sementara nilai bulanannya sebesar +1,56 derajat Celsius.
“Angka tersebut menandakan El Niño telah aktif dan berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan,” jelasnya.
BMKG menjelaskan, penetapan awal musim kemarau dilakukan berdasarkan kriteria klimatologis, yakni ketika suatu wilayah mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut dengan total akumulasi curah hujan kurang dari 150 milimeter.
Karena itu, hujan yang masih turun secara sporadis di beberapa daerah tidak serta-merta menandakan musim kemarau belum dimulai apabila wilayah tersebut telah memenuhi kriteria tersebut.
Hasil analisis BMKG juga menunjukkan sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami curah hujan di bawah normal sepanjang Juni 2026.
Kondisi tersebut masih berlanjut pada Dasarian I Juli 2026 dan diperkirakan dipengaruhi oleh dampak El Niño yang semakin terasa terhadap pola hujan di wilayah tersebut.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi dampak musim kemarau, seperti kekeringan meteorologis, menurunnya ketersediaan air baku, berkurangnya kelembapan tanah yang dapat memengaruhi sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Kami harap juga masyarakat mengelola sumber daya air secara bijaksana, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla, serta memanfaatkan informasi iklim dari BMKG sebagai dasar dalam menyusun berbagai kegiatan dan langkah mitigasi,” tutupnya. (LWM)

