RELUNG.ID – Hujan memang sudah mulai mengguyur sejumlah wilayah di Sumatera Selatan (Sumsel), namun ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya reda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat, enam kabupaten masih berstatus zona merah karhutla.
Sepanjang Agustus 2025, kasus karhutla di Sumsel tercatat paling tinggi sepanjang tahun, mencapai 266 kejadian. Sementara hingga awal September ini, sudah ada 28 kasus yang terpantau.
“Agustus memang puncak kemarau, sehingga kasus karhutla meningkat tajam. Meski September ada potensi hujan, periode ini tetap masuk puncak kemarau sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan,” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Senin (8/9).
Data BPBD menunjukkan, Ogan Ilir menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 111 kejadian. Disusul Musi Banyuasin (83), Banyuasin (54), Ogan Komering Ilir/OKI (52), PALI (34), dan Muara Enim (31). Di Ogan Ilir sendiri, Kecamatan Indralaya Utara mendominasi dengan 51 kejadian.
Selain zona merah, ada juga daerah berstatus zona oranye (16–30 kejadian), yakni Musi Rawas dengan 19 kasus. Adapun zona kuning (1–15 kejadian) tersebar di Muratara, Empat Lawang, Lubuk Linggau, Lahat, OKU, OKU Selatan, OKU Timur, Prabumulih, dan Palembang. Sedangkan Pagar Alam masih aman dengan status zona hijau.
Kepala Stasiun Klimatologi (Statklim) Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menambahkan sebagian besar wilayah Sumsel masih berada pada periode kemarau. Hanya 14 persen yang sudah masuk masa peralihan dengan potensi hujan.
“Diperkirakan akhir September mulai masuk musim hujan. Namun masyarakat tetap harus waspada terhadap potensi munculnya titik panas, serta kemungkinan hujan mendadak disertai petir dan angin kencang,” ujarnya.[THQ]

