RELUNG.ID – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menetapkan target penjualan mobil nasional pada 2025 mencapai 860 ribu unit.
Meskipun optimisme tersebut tetap tinggi, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, mengungkapkan adanya beberapa tantangan yang dapat mempengaruhi pencapaian target tersebut, salah satunya adalah kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan opsen pajak.
Kukuh menjelaskan, beberapa faktor eksternal, seperti perubahan tarif PPN menjadi 12 persen, serta adanya potensi kredit macet, dapat menjadi tantangan bagi industri otomotif di tahun ini. Kenaikan tarif PPN diprediksi akan berdampak pada daya beli konsumen, yang berpotensi mempengaruhi keputusan pembelian mobil.
“Selain kenaikan PPN, opsen pajak dan kondisi perekonomian yang belum stabil, kami juga melihat ada faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi pasar, seperti suku bunga acuan Amerika Serikat (Federal Funds Rate/FFR) yang dapat berdampak pada pembiayaan kendaraan,” ujar Kukuh, Jumat (19/1).
Namun demikian, Kukuh tetap optimis dengan proyeksi penjualan mobil 2025, berkat beberapa faktor positif, termasuk semakin banyaknya merek kendaraan bermotor yang masuk ke pasar Indonesia.
Hal ini memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen, sementara penjualan mobil listrik (EV) diperkirakan akan terus menunjukkan tren positif.
“Walaupun ada tantangan, kami tetap percaya bahwa industri kendaraan bermotor di Indonesia dapat tumbuh. Selain itu, penjualan EV diperkirakan terus bertumbuh seiring dengan semakin tingginya minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan,” tambah Kukuh.
Gaikindo juga menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari pemerintah, termasuk insentif untuk kendaraan listrik dan berbagai teknologi elektrifikasi (xEV), seperti HEV, PHEV, dan BEV. Dukungan kebijakan ini diharapkan dapat mengatasi dampak negatif dari kenaikan pajak dan memberikan dorongan positif bagi industri otomotif.
“Dukungan insentif dapat mempercepat pertumbuhan industri kendaraan bermotor, yang berdampak pada peningkatan penjualan, serta mendukung sektor industri terkait seperti komponen, perbankan, dan lembaga pembiayaan,” kata Kukuh.
Kukuh juga menyoroti bahwa kelas menengah akan memainkan peran penting dalam mendorong pasar mobil ke depan. Pasar mobil yang stagnan dalam kisaran 1 juta unit sejak 2014 hingga 2023 sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang menurun. Namun, jika Indonesia mencapai visi ekonomi 2045, pasar mobil diharapkan dapat tumbuh pesat.
“Visi Indonesia 2045, dengan pendapatan per kapita mencapai US$30.300 dan kelas menengah yang meliputi 80 persen dari populasi, akan memperkuat pasar mobil di Indonesia,” ujar Kukuh. (EKO P)

