RELUNG.ID — Mulai 1 Januari 2025, raksasa energi Rusia Gazprom secara resmi menghentikan ekspor gas melalui jalur pipa yang melintasi wilayah Ukraina. Keputusan ini menandai berakhirnya kesepakatan transit gas selama lima tahun antara Gazprom dan perusahaan energi Ukraina, Naftogaz yang habis masa berlakunya pada tengah malam 31 Desember 2024.
Gazprom menyebut penghentian ini sebagai akibat dari penolakan berulang Ukraina untuk memperbarui perjanjian transit gas, terutama di tengah perang yang masih berlangsung.
“Karena penolakan pihak Ukraina untuk memperbarui perjanjian ini, Gazprom kehilangan kemampuan teknis dan hukum untuk memasok gas melalui wilayah Ukraina mulai 1 Januari 2025,” tulis Gazprom di platform Telegram.
Di sisi lain, Ukraina menegaskan bahwa langkah tersebut dilakukan atas dasar keamanan nasional, seiring dengan hubungan kedua negara yang terus memburuk sejak konflik di Krimea pada 2014 dan invasi Rusia pada 2022.
Penghentian ini mengakhiri salah satu jalur transit gas tertua Rusia ke Eropa, sekaligus menciptakan tekanan baru bagi negara-negara Uni Eropa yang sebelumnya sangat bergantung pada gas Rusia.
Meski demikian, Rusia masih mengekspor gas ke Eropa melalui pipa TurkStream, yang melintasi dasar Laut Hitam, dan melalui negara-negara seperti Turki.
Uni Eropa telah mempercepat upaya untuk mengurangi ketergantungan energi pada Rusia sejak 2022 dengan mencari sumber alternatif, termasuk LNG (gas alam cair) dari Amerika Serikat, Qatar, dan negara-negara lain.
Penghentian transit ini diperkirakan akan memperkuat komitmen negara-negara Eropa untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan serta meningkatkan kapasitas impor dari sumber non-Rusia.
Langkah ini mencerminkan semakin dalamnya jurang konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, dengan dampak luas pada pasar energi global. Eropa kini menghadapi tantangan untuk menjaga stabilitas pasokan energinya di tengah perubahan drastis hubungan dengan Rusia.[TRA]

