RELUNG.ID — Langit malam Indonesia akan menghadirkan peristiwa astronomi istimewa berupa Gerhana Bulan Total pada Selasa, 3 Maret 2026. Fenomena ini menjadi sorotan karena termasuk kejadian langka yang bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadan, sesuatu yang tidak terjadi setiap tahun.
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus dengan posisi Bumi di tengah. Bayangan Bumi kemudian menutupi permukaan Bulan sepenuhnya. Pada fase puncak, Bulan tidak menghilang, melainkan berubah warna menjadi kemerahan akibat pembelokan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.
Peneliti astronomi dari Universitas Pendidikan Indonesia, Judhistira Aria Utama, menjelaskan bahwa gerhana pada 3 Maret 2026 dapat diamati dari seluruh wilayah Indonesia selama kondisi cuaca mendukung. Di wilayah Bandung, puncak totalitas diperkirakan terjadi pada pukul 18.33 WIB, sementara rangkaian gerhana berlangsung hingga sekitar pukul 21.33 WIB.
Pada awal kemunculannya, posisi Bulan masih rendah, kurang dari tujuh derajat di atas ufuk timur. Karena itu, masyarakat disarankan mencari lokasi pengamatan dengan pandangan terbuka tanpa terhalang gedung maupun perbukitan agar seluruh fase gerhana dapat terlihat jelas.
Menariknya, pengamatan gerhana Bulan tidak memerlukan peralatan khusus. Dengan langit cerah dan lokasi yang tepat, fenomena ini sudah bisa dinikmati secara langsung oleh masyarakat umum.
Gerhana ini juga tercatat sebagai satu-satunya gerhana sepanjang 2026 yang dapat disaksikan dari Indonesia. Sebelumnya, pada 17 Februari 2026 memang terjadi Gerhana Matahari Cincin, tetapi jalurnya tidak melintasi wilayah Indonesia sehingga tidak dapat diamati dari dalam negeri.
Catatan astronomi periode 2000–2100 menunjukkan terdapat 453 peristiwa gerhana, dengan 217 di antaranya bisa diamati dari Indonesia. Namun, hanya 19 yang terjadi beririsan dengan bulan Ramadan. Fakta tersebut menegaskan bahwa gerhana saat bulan puasa merupakan momen langka yang patut dinantikan.

