Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Guru Jadi Penjaga Identitas Daerah, Unsri Dorong Transformasi Pembelajaran Sejarah Lokal ke Era Digital
Regional

Guru Jadi Penjaga Identitas Daerah, Unsri Dorong Transformasi Pembelajaran Sejarah Lokal ke Era Digital

ADMINBy ADMIN26/10/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Di tengah pesatnya arus digitalisasi, Universitas Sriwijaya (Unsri) mendorong para guru sejarah untuk tidak sekadar menjadi pengajar di ruang kelas, tetapi juga penjaga dan pewaris identitas daerah melalui pembelajaran sejarah lokal berbasis teknologi.

Langkah konkret ini diwujudkan melalui kegiatan “Pembuatan Bahan Ajar History E-Magazine Berbasis Wakelet: Materi Sejarah Lokal Marga Sakatiga dan Pangeran Sido Ing Rejek” yang digelar di Kompleks Makam Pangeran Sido Ing Rejek, Ogan Ilir, Jumat (24/10/2025).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Berbasis Masyarakat Unsri Tahun 2025, yang melibatkan tim dosen Pendidikan Sejarah Unsri di bawah pimpinan Dr. Dedi Irwanto bersama anggota Prof. Farida, Dr. Syafruddin Yusuf, Dr. Agustina Bidarti, dan Taofiq Kurrahman, M.Hum.

Dr. Dedi Irwanto menjelaskan, kegiatan ini menandai pergeseran paradigma pembelajaran sejarah dari metode konvensional menuju pendekatan digital yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.

“Guru sejarah hari ini harus mampu menjadi peneliti daerahnya sendiri. Kami ingin mereka menulis, merekam, dan menghidupkan sejarah lokal lewat teknologi, bukan hanya mengandalkan buku teks nasional,” ujarnya.

Menurutnya, integrasi sejarah lokal dengan platform digital seperti Wakelet akan membuat pembelajaran lebih interaktif dan relevan bagi generasi muda. “Anak-anak sekarang lahir di dunia digital. Agar mereka mencintai sejarah, maka sejarah harus hadir di dunia mereka,” imbuhnya.

Guru Besar Pendidikan Sejarah Unsri, Prof. Farida, menekankan bahwa sejarah lokal adalah cermin jati diri dan sumber nilai moral yang harus diwariskan.

“Dengan mempelajari kisah Marga Sakatiga dan Pangeran Sido Ing Rejek, siswa tidak hanya belajar tentang masa lalu, tapi juga memahami akar budayanya sendiri. Ini adalah fondasi identitas,” katanya.

Sementara itu, Dr. Agustina Bidarti, yang memperkenalkan platform Wakelet, menuturkan bahwa e-magazine sejarah lokal akan menjadi sarana efektif untuk memperkaya bahan ajar.

“Guru bisa menggabungkan teks, foto, video, dan wawancara menjadi satu sajian digital. Ini membuka peluang pembelajaran kolaboratif dan menarik bagi siswa,” jelasnya.

Kegiatan lapangan ini juga diisi dengan kunjungan ke Rumah Pasirah Pangeran Syafi’i Jayadiningrat peninggalan tahun 1923 dan ke makam Pangeran Sido Ing Rejek, satu-satunya Sultan Palembang yang dimakamkan di luar kota Palembang.

Salah satu peserta, Riska Pria Utama, Ketua MGMP Sejarah Ogan Ilir, mengaku terinspirasi untuk memperjuangkan pelestarian rumah bersejarah tersebut.
“Bangunan ini seharusnya ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan dijadikan Museum Caram Seguguk OI. Nilainya luar biasa untuk pendidikan dan kebanggaan daerah,” ujarnya.

Peserta lain, Muzzakir Riza, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membuka wawasan tentang asal-usul Sakatiga. “Selama ini kami tidak tahu makna saketige yakni tiga suku Penesak, Belide, dan Mataram. Ini penting untuk kami ajarkan agar siswa tahu akar daerahnya,” pungkasnya. (DSK)

FKIP Unsri Guru Sejarah Sejarah Sakatiga UNSRI
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleMusim Hujan, Ular Mulai Masuk Rumah, Damkar PALI Waspadai Lonjakan Laporan Hewan Liar
Next Article Pemkab Empat Lawang Salurkan Bantuan untuk Lansia Kurang Mampu, Dinsos Pastikan Tepat Sasaran
ADMIN

Related Posts

Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20266 Views
Regional

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/20265 Views
Regional

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,897 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,769 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,742 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?