RELUNG.ID – Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Sumatera Selatan belakangan ini mulai dikeluhkan masyarakat. Namun pemerintah memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan kelangkaan stok pangan, melainkan dipengaruhi biaya distribusi dan cuaca yang tidak menentu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel, Ruzuan Efendi mengatakan, persediaan pangan di Sumsel sejauh ini masih aman dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kalau saya melihatnya bukan karena stok menipis. Barang masih ada dan ketersediaannya cukup,” ujar Ruzuan, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga ialah tingginya biaya distribusi, terutama untuk komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang yang mudah rusak sehingga membutuhkan pengiriman cepat.
Para distributor, kata dia, banyak menggunakan bahan bakar non-subsidi demi mempercepat distribusi barang. Kondisi itu membuat biaya operasional meningkat dan akhirnya berdampak pada harga jual di pasar.
“Tidak semua menggunakan BBM subsidi karena mereka ingin pengiriman lebih cepat. Itu yang memengaruhi biaya distribusi,” katanya.
Selain faktor distribusi, perubahan cuaca yang ekstrem juga mulai memengaruhi produksi pangan di sejumlah daerah sentra pertanian. Curah hujan tinggi dinilai dapat menghambat panen maupun proses pengiriman bahan pangan.
“Kadang hujan tinggi, kadang berubah cepat. Kita juga harus mulai mengantisipasi dampak El Nino dan La Nina,” jelasnya.
Berdasarkan pantauan harga di Pasar 16 Ilir Palembang, harga bawang merah saat ini mencapai Rp48 ribu per kilogram, bawang putih Rp35 ribu per kilogram, cabai merah keriting Rp45 ribu per kilogram, hingga cabai burung menyentuh Rp90 ribu per kilogram.
Meski mengalami kenaikan, pemerintah memastikan harga pangan di Sumsel masih dalam batas terkendali. Selisih harga antarwilayah juga disebut masih berada di kisaran 5 hingga 10 persen.
“Kalau ada kenaikan biasanya karena distribusi terganggu atau pasokan dari produsen tersendat,” ujarnya.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah daerah terus menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai kabupaten dan kota. Program tersebut menyediakan kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasaran.
Dalam program GPM, harga telur dijual sekitar Rp24 ribu per kilogram, lebih murah dibanding harga pasar yang mencapai Rp26 ribu. Sementara gula pasir dijual Rp16.500 per kilogram.[THQ]

