Harga getah karet yang hingga saat ini terus mengalami ketidakstabilan. Hal tersebut membuat sejumlah warga di Kabupaten PALI mulai beralih fungsi lahan.
Diantaranya yakni Gator dan Pak Kuat, warga Kecamatan Talang Ubi yang rela membabat kebun karetnya seluas 10 hektare dan ditanami ubi kayu, cabai hingga sayuran yang dianggap memiliki prospek yang lebih baik.
Baca Juga: 20 Pengrajin Almunium di PALI Disiapkan Untuk Lebih Moderen
Alih fungsi lahan juga mengikuti program pemerintah kabupaten yang menggalakkan ketahanan pangan. Kini, hijau tanaman karet telah berubah menjadi hijau tanaman ubi.
“Kami beralih tanam ubi kayu karena harga getah tak kunjung membaik. Kalau kami bertahan mengandalkan getah karet, kami tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Gatot, Selasa (10/1)
Untuk ubi kayu saat ini sudah banyak pabrik yang menampung hasil panen dari petani, sehingga para petani tidak khawatir untuk menjual hasil panennya. Tinggal bagaimana agar hasil tanaman tersebut terjaga kualitasnya. “Ada beberapa pabril ubi di Sumsel itu yang siap menampung,” terangnya.
Baca Juga: Pembangunan Kantor Kejari PALI Ditarget Selesai Tahun 2023
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten PALI, Ahmad Jhoni mengaku mendukung langkah petani yang ingin mengembangkan budidaya tanaman ubi atau jenis tanaman hortikultura di PALI. Hal ini guna menyokong program penanggulanan krisis pangan dan inflasi.
“Pemkab PALI juga tahun 2022 lalu gencar membagikan sejumlah benih tanaman agar masyarakat bisa memanfaatkan benih itu serta ditanam di lahan atau pekarangan dalam meningkatkan perekonomiannya,” pungkasnya.

