Tren penurunan harga karet di Sumsel masih terus terjadi. Penurunan ini terjadi baik di tingkat petani maupun di beberapa Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang ada di wilayah Sumsel.
Demikian diungkapkan Analis PSP Ahli Madya Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian melalui pesan singkatnya, Kamis (1/9).
Dia mengatakan ada dua faktor yang menyebabkan harga karet di tingkat petani atau UPPB di Sumsel mengalami penurunan. Kedua faktor yakni eksternal dan internal
Faktor eksternal
Penurunan harga karet di Sumsel tidak terlepas dari kondisi karet TSR20 di pasar global, setidaknya terdapat tiga faktor yang menyebabkan harga karet TSR20 di bursa berjangka Singapura belakangan ini semakin anjlok.
Faktor Pertama tak lain karena dampak kebijakan dalam negeri Tiongkok atau China mengenai pandemi Covid-19. Negera tirai bambu kembali menerapkan lockdown. Prinsip nol-Covid yang dianut China membuat pasar komoditas menjadi sangat tidak pasti. Kebijakan tersebut otomatis turut mempengaruhi laju sektor perdagangan internasional mereka.
“China merupakan konsumen atau importir komoditas karet terbesar di dunia. Konsekuensinya bila demand berkurang dari negeri ini sangat mempengaruhi harga di pasar global,” katanya.
Faktor kedua adalah pengaruh perang antara Rusia dengan Ukraina yang mempengaruhi ekonomi global dimana di negara eropa terjadi resesi, krisis pangan dan pada akhirnya daya beli masyarakat berkurang
Faktor ketiga adalah daya saing karet asal Thailand, dari segi produktivitas maupun harga. Harga karet dari negara tetangga itu lebih murah dibanding negara produsen karet alam lainnya.
“Keadaan ini mengakibatkan pembeli dari industri ban besar lebih banyak membeli ke negeri ini, perlu juga diketahui bahwa produktivitas karet Thailand lebih tinggi dibandingkan Indonesia,”
Faktor Internal
Penurunan harga karet di Sumatera Selatan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor internal, kondisi karet di Tingkat petani itu sendiri, paling tidak terdapat 5 faktor internal yang dapat mempengaruhi harga karet di tingkat petani Sumatera Selatan
Pertama, sebagian besar produksi karet petani rendah. Untuk mencari 1 ton per ha pertahun saja sulit, hal ini dikarenakan asalan bibit, kurang pemeliharaan dan kurang pemupukan
Kedua, tanaman umumnya sudah tua. Dari Luas areal 1.2348.415 hektare terdapat 11 persen atau 139.295 hektare tanaman karet tua atau tanaman rusak
Ketiga, sebagian besar dijual melalui pedagang pengepul secara harian, padahal sudah ada kelembagaan petani karet antara lain UPPB yang menjual secara berkelompok melalui kemitraan atau lelang mingguan
Keempat, kebiasaan sebagian petani karet di Sumsel dengan menyimpan bokarnya secara direndam atau dicampur dengan bahan bukan karet untuk memperberat timbangan, hal ini berpengaruh terhadap mutu.
Kelima, bahan pembeku karet, pada umumnya petani karet selama ini menggunakan pembeku lateks yang murah dan mudah didapat di pasaran yang dapat menyerap air dalam jumlah banyak sehingga bokar yang diperoleh menjadi berat.
Padahal tingginya kadar air dalam bokar dapat meningkatkan kadar abu ataupun kadar kotoran, terutama kalau air yang diserap berupa air kotor. Penggunaan pembeku lateks seperti pupuk fosfat maupun tawas akan meningkatkan kadar abu atau kadar kotoran yang sangat signifikan sehingga menyebabkan turunnya kualitas bokar.
kelima inilah yang saat ini menjadi PR bagi Pemprov Sumsel melalui Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan untuk membantu meningkatkan pendapatan petani karet di Provinsi Sumatera Selatan
“Dengan adanya 220 sarjana tenaga pendamping produksi perkebunan (TP4) diharapkan mampu mendampingi para pekebun untuk meningkatkan produktivitas di 17 Kabupaten/kota se Sumsel,” harapnya.

