RELUNG.ID — Harga kopi global terus meroket dalam beberapa bulan terakhir, membuat para pedagang mulai mengurangi pembelian dan konsumen berpikir ulang sebelum menikmati secangkir kopi favorit mereka. Di pasar berjangka, harga kopi Arabika telah naik hingga 70 persen sejak November 2024, memicu kekhawatiran di seluruh rantai pasok industri.
Kenaikan harga ini menjadi sorotan dalam konvensi tahunan Asosiasi Kopi Nasional AS di Houston pekan ini. Para peserta mengungkapkan keterkejutan atas lonjakan harga yang dinilai tidak masuk akal.
“Biasanya di waktu seperti ini, seluruh produksi tahunan kami sudah terjual habis. Tapi sejauh ini, baru kurang dari 30 persen yang terjual,” kata Renan Chueiri, Direktur Jenderal ELCAFE C.A. dari Ekuador, dikutip Reuters, Sabtu (8/3/2025).
Salah satu penyebab utama melonjaknya harga kopi adalah menurunnya produksi di negara penghasil terbesar dunia, Brasil. Kondisi cuaca yang tak mendukung membuat hasil panen berkurang drastis, mengurangi ketersediaan biji kopi di pasar global.
Akibatnya, proses distribusi menjadi lebih ketat. Pedagang harus melakukan pemesanan lebih awal dan menunggu lebih lama untuk mendapatkan pasokan. Bahkan, banyak transaksi di Brasil kini dilakukan dengan aturan yang semakin kaku.
“Kami hanya diberi waktu tujuh hari untuk mengambil kopi dari perkebunan atau gudang. Setelah memeriksa kualitas, baru kami bisa melakukan pembayaran dan membawa kopi tersebut,” jelas Chueiri.
Lonjakan harga ini berdampak pada seluruh rantai pasok kopi, mulai dari petani, pedagang, hingga konsumen. Arus kas pembeli tergerus, membuat mereka kesulitan membeli dalam jumlah besar. Di sisi lain, konsumen akhir terpaksa membayar lebih mahal untuk secangkir kopi, bahkan di kedai-kedai kecil.
Dengan situasi ini, industri kopi global dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin kopi akan menjadi barang mewah bagi banyak kalangan. [THQ]

