RELUNG.ID – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru melontarkan kritik keras terhadap masifnya alih fungsi lahan yang terjadi di Kota Palembang. Ia menilai hilangnya ratusan alur sungai akibat penimbunan menjadi salah satu penyebab utama banjir yang terus berulang di ibu kota provinsi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Deru saat menghadiri rangkaian peringatan HUT ke-80 Provinsi Sumsel di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Kamis (21/5/2026), di hadapan akademisi, mahasiswa, dan para pemerhati lingkungan.
Menurut Deru, Palembang yang dahulu dikenal sebagai kota dengan ratusan anak sungai kini kehilangan sebagian besar jalur air alaminya akibat aktivitas manusia.
“Dalam sejarah Kota Palembang, sungai kita ini tersisa 114 saja. Terus yang 600 ke mana? Emang dibawa orang ke luar negeri? Tidak. Kita sendiri yang menutupnya,” ujar Deru.
Ia mengungkapkan, berdasarkan catatan sejarah, Palembang awalnya memiliki sekitar 726 alur sungai yang tersebar di wilayah seluas 400 hingga 500 kilometer persegi. Namun jumlah itu terus menyusut akibat penimbunan dan pembangunan yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.
“Jangankan hutan, sungai saja hilang. Kalau tidak dijaga, mungkin nanti cucu kita tinggal melihat dua sungai saja, Sungai Musi dan Sungai Baung,” katanya.
Deru menyebut banjir yang kini kerap melanda Palembang bukan semata disebabkan faktor cuaca ekstrem, melainkan akibat rusaknya sistem drainase alami kota yang selama ratusan tahun berfungsi sebagai jalur resapan dan aliran air.
Ia juga menyoroti praktik pencaplokan anak sungai yang dinilai masih terus terjadi hingga saat ini. Karena itu, Deru meminta akademisi dan lembaga pendidikan ikut terlibat aktif melalui penelitian dan kajian ilmiah untuk menyelamatkan ekosistem sungai di Palembang.
“Anak-anak sungai dicaplok. Ini ulah manusia yang harus kita sadarkan dengan rasa memiliki terhadap alam,” tegasnya.[THQ]

