RELUNG.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai menunjukkan peningkatan serius. Memasuki musim kemarau, jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Sumsel melonjak tajam hingga mencapai 117 titik dalam sehari, angka tertinggi sepanjang 2026.
Lonjakan tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya risiko karhutla di sejumlah daerah yang selama ini dikenal rawan kebakaran lahan dan hutan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan peningkatan hotspot dalam beberapa hari terakhir terjadi seiring berakhirnya musim hujan dan mulai dominannya cuaca kering di seluruh wilayah Sumsel.
“Terjadi peningkatan signifikan angka hotspot pada beberapa hari di akhir Mei ini. Hal ini seiring dengan masuknya musim kemarau di seluruh wilayah Sumsel,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, kondisi cuaca panas yang disertai minimnya curah hujan menjadi faktor utama meningkatnya jumlah titik panas.
“Situasi tersebut berpotensi memicu kebakaran apabila tidak diantisipasi sejak dini, ” kata dia.
Data BPBD Sumsel menunjukkan tren peningkatan hotspot terus terjadi sejak awal tahun. Hingga 30 Mei 2026, total titik panas yang terpantau telah mencapai 928 titik.
Jumlah tersebut terdiri dari 75 hotspot pada Januari, 54 titik pada Februari, 107 titik pada Maret, dan meningkat menjadi 150 titik selama April. Sementara pada Mei, jumlah hotspot kembali mengalami lonjakan signifikan.
“Hingga 30 Mei tercatat sebanyak 542 titik panas yang terpantau di Sumsel. Angkanya meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” kata Sudirman.
Dari seluruh kabupaten dan kota di Sumsel, Kabupaten Lahat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi yakni 209 titik. Disusul Kabupaten Muara Enim sebanyak 179 titik dan Musi Banyuasin (Muba) dengan 110 titik.
“Ketiga daerah tersebut selama ini memang menjadi wilayah yang rutin mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan karhutla, ” kata dia.
Meningkatnya hotspot membuat BPBD Sumsel meminta pemerintah daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi untuk segera menetapkan status siaga karhutla.
Langkah tersebut dinilai penting agar kesiapan personel, peralatan, serta upaya mitigasi dapat dilakukan lebih cepat sebelum kebakaran meluas.
Menurut Sudirman, beberapa wilayah bahkan dilaporkan sudah mulai mengalami kejadian karhutla meski skalanya masih terbatas.
“Status siaga penting agar pemerintah daerah siap melakukan pencegahan maupun penanganan apabila terjadi kebakaran,” ujarnya.
Selain pemerintah daerah, masyarakat juga diminta berperan aktif dalam pencegahan karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran.
“Warga yang menemukan asap atau titik api di kawasan hutan, lahan, maupun perkebunan diminta segera melaporkannya kepada aparat atau petugas terkait agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, ” kata dia. [THQ]

