RELUNG.ID – Harapan turunnya hujan untuk membantu meredakan dampak musim kemarau di Sumatera Selatan belum berlaku untuk seluruh wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Sumsel masih akan didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan dalam sepekan ke depan.
Hujan hanya berpeluang turun di sejumlah wilayah dengan intensitas ringan. Sifatnya pun sporadis atau lokal dan berlangsung dalam waktu singkat.
Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Siswanto mengatakan potensi hujan tersebut diprakirakan terjadi di Musi Rawas (Mura), Musi Rawas Utara (Muratara), Lahat, dan Pagar Alam.
“Terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan yang bersifat sporadis (lokal) dan berdurasi singkat pada tanggal 15 September di sebagian wilayah Mura,” ujar Siswanto, Senin (14/9/2026).
Potensi hujan kemudian diprakirakan muncul pada 18 September di sebagian wilayah Muratara, serta 19 September di sebagian wilayah Lahat dan Pagar Alam.
Meski demikian, hujan tersebut belum menjadi indikasi bahwa musim kemarau di Sumsel telah berakhir. Sebab, sebagian besar wilayah provinsi masih diprakirakan mengalami kondisi cerah hingga cerah berawan sepanjang 13-19 September.
“Secara umum wilayah Sumsel diprakirakan cerah hingga cerah berawan dalam sepekan ke depan. Aliran massa udara masih didominasi angin timuran atau monsun timur yang membawa massa udara kering dari Benua Australia melewati wilayah Indonesia,” katanya.
Siswanto menjelaskan seluruh wilayah Sumsel saat ini masih berada dalam periode musim kemarau. Stabilnya kondisi atmosfer membuat pembentukan awan hujan masih terbatas.
“Saat ini seluruh wilayah Sumsel masih dalam periode musim kemarau. Kondisi atmosfer diprakirakan stabil tanpa adanya dinamika cuaca yang signifikan. Hal ini menyebabkan minimnya potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumsel hingga sepekan ke depan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat hujan yang diprakirakan turun di sejumlah daerah belum cukup untuk mengubah situasi kemarau secara umum. Terlebih, hujan yang berpotensi terjadi bersifat lokal dan berdurasi singkat.
BMKG pun mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Minimnya hujan dan kondisi vegetasi yang mengering dapat meningkatkan potensi munculnya titik api.
“Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar sampah serta membuang puntung rokok sembarangan,” pungkasnya. (THQ)

