RELUNG.ID – Hujan deras yang mengguyur kota terbesar di Selandia Baru, Jumat kemarin (27/1), berakibat pada tiga korban jiwa, dan satu orang dikabarkan masih menghilang.
Pihak berwenang pun menyebutkan curah hujan yang tinggi ini menyebabkan gangguan meluas.
Perdana Menteri Chris Hipkins terbang ke Auckland dengan pesawat militer setelah keadaan darurat diumumkan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Suzuki Jimny Edisi EV Bakal Diproduksi, Electric Offroad SUV Ini Meluncur di Eropa Tahun 2030
“Prioritas kami adalah memastikan bahwa warga Auckland aman, mereka ditampung, dan mereka memiliki akses ke layanan penting yang mereka butuhkan,” kata Hipkins dikutip dari APNews, Sabtu (28/1).
Saat ini, kota sedang dalam pembersihan besar-besaran dan orang-orang harus tetap berada di dalam rumah jika memungkinkan. Dia mengatakan jeda cuaca bisa terbukti sementara, dengan perkiraan hujan yang lebih deras.
“Ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam ingatan baru-baru ini,” kata Hipkins.
Badan Cuaca setempat memperkirakan Jumat kemarin (27/1) merupakan hari terbasah yang pernah tercatat di Auckland. Karena, jumlah hujan yang biasanya turun sepanjang musim panas terjadi dalam satu hari. Pada Jumat malam, curah hujan lebih dari 15 sentimeter (6 inci) turun hanya dalam waktu tiga jam di beberapa tempat.
Baca Juga: Realme Kolaborasi Coca-cola Garap Smartphone Edisi Khusus?
Hujan menutup jalan raya dan mengalir ke rumah-rumah. Ratusan orang terdampar di Bandara Auckland semalam setelah bandara menghentikan semua penerbangan dan sebagian terminal kebanjiran.
Bahkan, kepolisian setempat menemukan tiga mayat pria di lokasi berbeda, yakni di sebuah gorong-gorong yang terendam banjir, di tempat parkir, dan satu mayat tertimbun tanah longsor sebuah rumah di pinggiran kota Remuera. Tak hanya itu, satu orang pun masih dikabarkan menghilang akibat tersapu air banjir.
Saat ini, kondisi listrik telah pulih sebagian. Namun, masih 3.500 rumah yang tetap belum dialiri listrik.

