RELUNG.ID- Kemunculan ikan oarfish di permukaan laut atau pesisir kembali dikaitkan dengan pertanda akan terjadinya gempa. Namun, pakar kebencanaan menegaskan hingga kini belum ada bukti ilmiah yang valid untuk mendukung anggapan tersebut.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan penelitian mengenai perilaku ikan laut dalam belum menemukan hubungan sebab-akibat langsung dengan aktivitas seismik.
“Secara ilmiah, belum ada bukti valid yang menunjukkan bahwa kemunculan ikan laut dalam di permukaan atau pesisir, seperti di Pantai Pink Lombok (25/8/2026), merupakan pertanda pasti akan terjadinya gempa,” kata Daryono dalam keterangannya, Kamis (29/8/2026).
Menurut Daryono, sejumlah penelitian yang dilakukan ahli oseanografi dan seismologi, termasuk kajian di Jepang yang banyak meneliti fenomena tersebut, belum menemukan bukti bahwa kemunculan ikan laut dalam dapat digunakan sebagai indikator terjadinya gempa.
Ia menjelaskan, kemunculan oarfish ke permukaan maupun wilayah pesisir dapat dipengaruhi sejumlah faktor alam.
Beberapa di antaranya perubahan suhu air laut, pergeseran arus, hingga fenomena upwelling yang membawa nutrisi dan organisme dari perairan dalam menuju permukaan.
Selain itu, kondisi fisik ikan yang sedang sakit atau terluka serta upaya menghindari predator juga dapat menyebabkan ikan laut dalam berada di wilayah yang tidak biasa.
“Oleh karena itu, isu bahwa kemunculan ikan tersebut adalah tanda bencana gempa yang akan datang adalah tidak benar,” tegas Daryono.
Sebelumnya, seekor ikan oarfish ditemukan mati terdampar di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (25/8/2026).
Ikan laut dalam yang memiliki bentuk tubuh pipih memanjang tersebut diperkirakan memiliki panjang sekitar empat meter.
Ikan ditemukan pengunjung pantai dalam kondisi sudah mati sekitar pukul 07.30 WITA. Penemuan tersebut kemudian direkam dan videonya beredar di media sosial.
Dalam video yang diunggah akun Facebook @Baiq Kolby, sejumlah orang terlihat membawa ikan berukuran besar tersebut.
Kepala Wilayah Dusun Telone, Desa Sekaroh, Sahlan, membenarkan adanya penemuan ikan oarfish tersebut.
Menurutnya, ikan itu ditemukan oleh pengunjung yang datang dari Lombok Tengah dan bermalam untuk berkemah di kawasan Pantai Pink.
“Tadi pagi penemuannya. Yang menemukan bukan warga kami, tetapi warga luar yang datang untuk berkemah dari tadi malam, pengunjunglah begitu,” kata Sahlan seperti dilaporkan detikBali.
Penemuan ikan langka tersebut kemudian menarik perhatian para pengunjung pantai.
Meski sering dikaitkan dengan mitos sebagai “ikan kiamat” atau pertanda bencana, Daryono menegaskan kemunculan oarfish tidak dapat dijadikan dasar untuk memprediksi gempa.
Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang mengaitkan kemunculan hewan tertentu dengan prediksi bencana tanpa didukung bukti ilmiah. Untuk informasi terkait potensi gempa, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi dari lembaga yang berwenang.[YKP]

