RELUNG.ID – Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung ke sektor industri dalam negeri. Terganggunya pasokan bahan baku plastik akibat perang di Iran memaksa pemerintah Indonesia bergerak cepat mencari sumber alternatif demi menjaga stabilitas produksi.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, selama ini ketergantungan terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah cukup tinggi. Namun, situasi konflik membuat alur impor tersendat dan berdampak pada kenaikan harga plastik di dalam negeri.
“Sekarang kita mencari alternatif dari negara lain, seperti Afrika, India, dan Amerika,” ujar Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Langkah diversifikasi ini menjadi strategi cepat pemerintah untuk mengurangi tekanan pasokan. Meski demikian, Budi mengakui proses peralihan sumber impor tidak bisa dilakukan secara instan.
Perubahan jalur pasok membutuhkan penyesuaian, mulai dari negosiasi dagang hingga distribusi logistik yang berbeda dari sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri di tengah kebutuhan industri yang harus tetap berjalan.
Pemerintah pun tidak hanya membuka akses ke pasar baru, tetapi juga memperkuat komunikasi dengan pelaku industri dalam negeri serta perwakilan Indonesia di luar negeri guna mempercepat pencarian pemasok tambahan.
Upaya ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan produksi sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku plastik, sekaligus menekan gejolak harga di pasar domestik.
“Tujuannya agar pasokan tetap aman dan harga bisa kembali stabil,” tegas Budi.[THQ]

