RELUNG.ID – Industri minuman ringan Indonesia mengalami perlambatan signifikan sejak paruh kedua tahun 2024 hingga kuartal pertama 2025. Berdasarkan data Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), pertumbuhan hanya mencapai 1,2 persen, jauh lebih rendah dibandingkan angka 3,2 persen pada tahun 2023.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengungkapkan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama.
“Turunnya daya beli masyarakat, tekanan inflasi, dan ketidakpastian dagang global, termasuk kebijakan tarif baru Amerika Serikat, menjadi penyebab utama perlambatan ini,” ujar Merrijantij dalam Konferensi Pers Kinerja Industri Minuman 2024 yang digelar di Jakarta Selatan, Rabu (15/5).
Produk air minum dalam kemasan (AMDK) tetap menjadi penggerak utama industri dengan pangsa pasar sebesar 62 persen. Sementara itu, produk lain seperti minuman kopi dan teh kemasan menyumbang 15 persen, minuman berkarbonasi 5 persen, serta minuman sari buah, susu, dan energi sebanyak 18 persen.
Selain pasar domestik, sektor ekspor juga menghadapi tantangan. Pada tahun 2024, ekspor produk minuman ringan tercatat sebesar USD 142,8 juta atau sekitar 195,2 ribu ton. Namun, kenaikan tarif impor terhadap bahan berbasis gula dan olahan tropis oleh AS menjadi penghambat dalam memperluas pasar ekspor.
Merrijantij menyarankan pelaku industri untuk memanfaatkan situasi ini sebagai momentum berinovasi.
“Kita perlu beradaptasi dengan dinamika yang ada, baik dari sisi pengembangan produk maupun efisiensi rantai pasok. Industri ini memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong investasi lokal,” jelasnya.
Tercatat, ada 126 perusahaan yang bergerak di sektor ini dengan jumlah tenaga kerja mencapai 22.853 orang pada tahun 2024. Dengan kontribusi yang besar terhadap perekonomian, diharapkan sektor ini dapat segera bangkit menghadapi tantangan global.[THQ]

