RELUNG.ID – Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, mengungkapkan bahwa industri otomotif Indonesia mengalami kontraksi sebesar 16,2 persen pada 2024 akibat melemahnya daya beli masyarakat dan kenaikan suku bunga kredit kendaraan bermotor.
“Produksi mobil menurun 14,3 persen menjadi 1,19 juta unit, dengan penjualan domestik turun 13,9 persen menjadi 865 ribu unit. Sementara itu, ekspor mobil dalam bentuk utuh (CBU) juga turun 6,5 persen menjadi 472 ribu unit,” jelas Setia dalam acara Prospek Industri Otomotif 2025 dan Peluang Insentif dari Pemerintah, Selasa (14/1).
Namun, di tengah tekanan tersebut, industri kendaraan roda dua menunjukkan pertumbuhan positif. Produksi sepeda motor naik 1,5 persen menjadi 6,91 juta unit, dengan penjualan domestik sebanyak 6,33 juta unit (naik 1,5 persen). Ekspor sepeda motor CBU meningkat 0,4 persen menjadi 572 ribu unit.
Penurunan ini memengaruhi kontribusi sektor otomotif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yang turun sebesar Rp 4,21 triliun. Dampak juga terlihat pada sektor terkait, yakni Backward linkage (dampak pada rantai pasok): Rp 4,11 triliun dan Forward linkage (dampak pada sektor hilir): Rp 3,52 triliun
Guna memulihkan kinerja industri otomotif dan merespons tantangan global, Setia mengusulkan sejumlah insentif yakni PPnBM Ditanggung Pemerintah (DTP), untuk kendaraan hybrid (PHEV, Full, Mild) sebesar 3 persen. PPN DTP, untuk kendaraan listrik (EV) sebesar 10 persen guna mendorong adopsi kendaraan listrik dan Relaksasi Pajak Kendaraan dengan penundaan atau keringanan opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Saat ini, 25 provinsi telah menerbitkan regulasi relaksasi terkait opsen PKB dan BBNKB.
“Insentif ini penting untuk mendorong pemulihan industri otomotif, sekaligus mempercepat transisi menuju kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan,” kata Setia. [TRA]

