RELUNG.ID – Inflasi di Sumatra Selatan (Sumsel) melonjak ke 4,36 persen secara tahunan (yoy) pada Februari 2026, lebih tinggi dibanding Januari yang tercatat 3,33% yoy dan jauh di atas periode sama tahun lalu sebesar 0,49% yoy.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menyebut lonjakan inflasi ini dipicu oleh penghapusan subsidi atau diskon tarif listrik yang diberikan pada 2025.
“Ini efek dari low base tahun lalu. Tekanan serupa kemungkinan bisa muncul kembali pada Maret dan April, sehingga perlu perhatian pemerintah daerah,” jelas Wahyu.
Analisis BPS menunjukkan, dari 11 kelompok pengeluaran, tiga kelompok memberikan andil terbesar terhadap inflasi yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya – inflasi tertinggi 22,93 persen, andil 1,83 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga – inflasi 14,53 persen, andil 1,80 persen dan makanan, minuman, dan tembakau – inflasi 1,97 persen, andil 0,62 persen.
Secara komoditas, penyumbang utama inflasi Februari 2026 adalah emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, beras, dan tomat. Wahyu menambahkan, wilayah dengan inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kabupaten Muara Enim sebesar 4,69 persen, sementara yang terendah di Ogan Komering Ilir 4,09 persen.
Wahyu mengingatkan, lonjakan harga pada kelompok kebutuhan primer seperti listrik dan pangan dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
“Masyarakat perlu mengantisipasi kenaikan biaya hidup, dan pemerintah daerah juga harus menyiapkan strategi mitigasi agar tekanan inflasi tidak semakin memberatkan,” katanya.[THQ]

