RELUNG.ID – Realisasi investasi di Sumatera Selatan (Sumsel) terus menunjukkan performa impresif. Hingga triwulan III/2025, provinsi ini berhasil mencatatkan nilai investasi sebesar Rp49,8 triliun, melampaui target RPJMD Rp42,5 triliun jauh sebelum tahun anggaran berakhir. Lonjakan ini tak lepas dari pengaruh kuat subsektor industri kertas dan percetakan, yang kini menjadi motor utama pertumbuhan investasi daerah.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumsel, Lusapta Yudha Kurnia, mengungkapkan subsektor tersebut berakselerasi berkat proyek pembangunan pabrik ketiga OKI Pulp and Paper yang mendorong arus modal masuk secara signifikan.
“Kontribusi terbesar berasal dari industri pulp dan paper, khususnya untuk produk tisu dan kertas. Ini menjadi katalis utama investasi Sumsel tahun ini,” ujarnya, Senin (10/11/2025).
Data menunjukkan investasi subsektor ini mencapai Rp4,59 triliun atau hampir separuh realisasi investasi selama periode tersebut. Sektor Minerba menyusul kuat dengan pencapaian Rp10,31 triliun atau 26,64% dari total investasi, didukung kebangkitan industri pertambangan dan pengolahan mineral.
Selain itu, pembangunan infrastruktur yang intens, termasuk proyek strategis nasional (PSN) serta jaringan tol antarwilayah, ikut mendorong iklim investasi semakin kondusif.
“Dengan dukungan PSN serta konektivitas yang semakin baik, kita harap investasi infrastruktur terus menghasilkan efek domino bagi sektor lain, termasuk industri manufaktur,” tambah Lusapta.
Meski sudah melewati target RPJMD, Pemprov Sumsel masih berambisi mengejar target pemerintah pusat yang mencapai Rp78,85 triliun pada akhir tahun ini. DPMPTSP tetap optimistis, terutama karena aktivitas transaksi investasi diprediksi akan meningkat pada triwulan terakhir.
Plt Sekretaris DPMPTSP Sumsel, Eko Agusrianto, menjelaskan total investasi tersebut berasal dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp11,11 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp38,71 triliun. Dari kegiatan investasi itu, Sumsel telah menyerap 47.025 tenaga kerja.
“Dari laporan pelaku usaha, ribuan tenaga kerja terserap, menunjukkan dampak ekonomi yang nyata,” ujarnya.
Di antara negara investor, Singapura tercatat sebagai penyumbang modal terbesar mencapai Rp7,19 triliun, diikuti oleh Tiongkok Rp1,77 triliun, Malaysia Rp690 miliar, Inggris Rp325 miliar, dan Jepang Rp285 miliar.[THQ]

