RELUNG.ID – Penjabat (PJ) Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel), Elen Setiadi, memastikan bahwa kondisi jelang Pilkada di wilayah Sumsel tetap kondusif meski masuk dalam kategori rawan sedang. Menurut Elen, pemilihan yang memanas adalah hal yang biasa terjadi dalam proses Pilkada.
“Kalau Pilkada memanas itu ya biasa. Kalau Pilkada tidak memanas ya bukan Pilkada namanya,” ungkap Elen Setiadi pada Jumat, 13 September 2024.
Elen Setiadi menegaskan bahwa pihaknya, bersama dengan KPU, Bawaslu, dan aparat penegak hukum, terus melakukan koordinasi untuk mengantisipasi segala bentuk kerawanan agar Pilkada tidak berujung pada konflik.
“Kita sudah melakukan rapat untuk mengidentifikasi potensi-potensi kerawanan. Sampai saat ini, belum ada masalah signifikan dibandingkan Pemilu sebelumnya,” jelasnya.
Ketua Bawaslu Sumsel, Kurniawan, juga mengonfirmasikan bahwa tingkat kerawanan Pilkada di Sumsel berada pada level rawan sedang. Hal ini didasarkan pada catatan Pilkada 2018 dan 2020, dengan pemicu utama berupa netralitas ASN dan politik uang.
“Kami berharap potensi konflik tidak justru disebabkan oleh penyelenggara pemilu, seperti KPU dan Bawaslu,” kata Kurniawan. Ia menambahkan bahwa kerawanan juga bisa timbul dari lambatnya penanganan laporan masyarakat mengenai kecurangan.
“Contoh dari Pemilu 2024 lalu di Muratara menunjukkan bahwa keterlambatan penanganan laporan dapat memicu masalah. Kami telah mengingatkan KPU terkait potensi konflik yang disebabkan oleh penyelenggara pemilu,” ungkapnya.
Kurniawan juga menyoroti tiga tahapan kampanye yang berpotensi menimbulkan kerawanan: selama tahapan kampanye, sebelum pemungutan suara, dan setelah pemungutan suara. Ia mencatat bahwa potensi keributan sering terjadi saat pengumuman hasil pemilu.
“Masalah seperti ketidaksesuaian daftar pemilih tetap (DPT) dan kurangnya undangan harus diselesaikan sejak awal agar tidak menjadi masalah besar saat pemungutan suara,” tambah Kurniawan. [AYK]

