RELUNG.ID- Seorang warga Cianjur bernama Nyanyang Suherli (45) mengaku menjadi korban salah tangkap yang disertai kekerasan fisik oleh sejumlah oknum anggota Polres Cianjur. Pengakuannya viral di media sosial setelah diunggah akun TikTok @putrapasundan\_01.
Dalam video yang beredar, wajah Nyanyang terlihat lebam, diduga akibat penganiayaan. Ia berbicara dalam bahasa Sunda sambil meminta bantuan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Pak Dedi yeuh, tulungan abdi Pak Dedi. Abdi korban kekerasan anggota polisi, korban salah tangkap,” ujar Nyanyang dalam video.
Ia mengaku dipukuli saat sedang mencari biji kopi di kawasan Lampegan, Kecamatan Campaka, pada malam 2 Juni 2025. Tanpa penjelasan, ia dihentikan sekelompok pria di Jalan Raya Bandung–Cianjur.
Salah satunya mencekal lehernya hingga ia memberontak secara spontan. Salah satu sikunya mengenai wajah pria tersebut, yang belakangan mengaku polisi.
Setelah itu, ia mengaku mengalami pemukulan dan diseret masuk ke mobil. Nyanyang mengaku kembali mendapat kekerasan saat berada di dalam kantor Polres Cianjur oleh enam orang oknum polisi.
“Saya dihujani pukulan dan tendangan. Bahkan saat saya bertanya kenapa ditangkap, tidak ada yang menjawab,” ujar Nyanyang.
Setelah tiga hari ditahan, ia akhirnya dipulangkan. Dari situ diketahui bahwa rekannya yang ikut malam itu ternyata masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atas dugaan penadahan barang curian.
Kasus ini menjadi sorotan setelah video kondisi korban viral di media sosial. Nyanyang yang ketakutan justru memilih meminta perlindungan dari Gubernur Jabar, alih-alih ke kepolisian.
Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Hendra Rochmawan, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian itu berlangsung saat polisi sedang mencari pelaku pencurian di sebuah minimarket.
“Orangnya ada di sana dan dia reaktif kepada polisi. Melakukan perlawanan sehingga kami duga sebagai tersangka,” ujar Hendra, Senin (9/6/2025).
Ia juga menyebut bahwa Nyanyang sempat memukul anggota hingga menyebabkan luka. Namun demikian, Polda Jabar mengaku sudah melakukan komunikasi dengan korban dan berupaya menyelesaikan persoalan secara damai.
“Kami siap bantu pengobatan dan pastikan kejadian ini tidak menyebar jadi kabar miring,” ujar Hendra.[YKP]

