RELUNG.ID– Kekecewaan masyarakat terhadap lambannya perbaikan infrastruktur pascabencana berbuah aksi nyata. Warga di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, bergotong royong mengumpulkan dana hingga Rp1 miliar untuk memperbaiki Jalan dan Jembatan Enang-Enang, jalur nasional yang hampir satu tahun terputus akibat longsor.
Berkat swadaya masyarakat tersebut, akses yang menjadi pintu gerbang menuju Dataran Tinggi Gayo itu akhirnya kembali dapat dilintasi. Peresmian pembukaan jalan dilakukan pada Kamis (2/7/2026) dan disambut antusias oleh ratusan warga.
Inisiator perbaikan Jalan Enang-Enang, Sahrial Abadi, mengungkapkan rasa syukur setelah proses pengaspalan dan perbaikan jembatan rampung. Di tengah prosesi peresmian, ia tampak tak kuasa menahan haru hingga meneteskan air mata.
“Jalan hari ini resmi kita buka, proses pengaspalan dan perbaikan jembatan sudah selesai. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” ujar Sahrial.
Prosesi pembukaan jalan ditandai dengan pemotongan pita yang dipimpin tokoh ulama Aceh, Tengku Muhammad Yusuf Nasir atau Abiya Jeunib. Lantunan doa dan selawat mengiringi momen tersebut, sementara masyarakat dari berbagai kalangan turut memadati lokasi untuk menyaksikan peresmian akses vital yang selama ini mereka nantikan.
Sahrial menjelaskan, dana yang berhasil dikumpulkan masyarakat mencapai sekitar Rp1 miliar. Seluruh anggaran berasal dari donasi warga tanpa menggunakan dana APBN, APBA, maupun APBK.
Menurutnya, hingga saat ini sekitar Rp526 juta telah digunakan untuk pembangunan jalan dan jembatan. Sementara sisa dana sekitar Rp555 juta akan dimanfaatkan untuk membangun dinding penahan jalan, tempat ibadah, serta fasilitas pendukung lainnya.
“Perbaikan Jalan dan Jembatan Enang-Enang bukan hanya soal mempermudah akses masyarakat, tetapi juga menjadi simbol bangkitnya semangat persatuan dan gotong royong masyarakat Gayo,” katanya.
Aksi swadaya tersebut bermula pada 26 Mei 2026 ketika masyarakat menyewa satu unit ekskavator untuk membuka kembali jalur yang tertutup longsor sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh pada November 2025. Selain menyumbang uang, warga juga bergotong royong menyediakan bahan bakar minyak (BBM) guna mendukung operasional alat berat.
Selama akses utama ditutup, arus kendaraan dialihkan melalui jalur Simpang Lancang-Wih Porak. Namun, jalur alternatif itu dinilai sempit, rusak, dan sering memicu antrean panjang sehingga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Di tengah proses perbaikan, sempat muncul polemik setelah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh menyatakan Jalan Enang-Enang tidak aman dilintasi dan meminta masyarakat menggunakan jalur alternatif Wer Lah.
Kepala BPJN Aceh, Zulkarnain, saat itu menyebut penutupan dilakukan demi keselamatan pengguna jalan. Namun kebijakan tersebut memicu kritik dari berbagai elemen masyarakat hingga akhirnya BPJN kembali membuka akses dan memberikan klarifikasi.
“Sebenarnya yang saya sampaikan kemarin bukan menutup total Jalan Enang-Enang. Yang kami maksud hanya kendaraan dengan muatan berlebih yang tidak diperbolehkan melintas. Jadi jangan salah mengartikan. Saya meminta maaf,” kata Zulkarnain.
Bagi masyarakat, kembali berfungsinya Jalan Enang-Enang membawa harapan baru. Halidin, seorang pedagang sayur dan buah di Kecamatan Wih Pesam, mengaku akses tersebut sangat membantu aktivitas perdagangan karena memangkas waktu tempuh menuju sejumlah daerah, termasuk ibu kota Provinsi Aceh.
Ia berharap pemerintah menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran agar penanganan infrastruktur pascabencana dilakukan lebih cepat sehingga masyarakat tidak harus menanggung dampak kerusakan dalam waktu yang lama.
“Pemerintah harusnya malu, cukuplah sekali terjadi peristiwa-peristiwa seperti ini. Penanganan bencana harus diutamakan, kasihan masyarakat yang kesusahan berdagang atau bertani karena jalannya rusak,” ujarnya.[YKP]

