RELUNG.ID – Banyak lulusan sekolah kejuruan masih menghadapi kesenjangan antara teori di bangku sekolah dan tuntutan dunia kerja. Menjawab tantangan tersebut, SMK PGRI 1 Palembang menghadirkan Bank Mini sebagai “miniatur dunia kerja” di lingkungan sekolah.
Program ini bukan sekadar fasilitas praktik, melainkan simulasi nyata sistem perbankan yang dirancang untuk membiasakan siswa menghadapi ritme kerja, pelayanan, dan tanggung jawab profesional sejak dini.
Kepala SMK PGRI 1 Palembang, Nurhidayatika, menegaskan bahwa Bank Mini menjadi bagian dari strategi besar sekolah dalam menekan gap kompetensi lulusan SMK dengan kebutuhan industri.
“SMK tidak boleh hanya berhenti pada teori. Siswa harus dibiasakan dengan situasi kerja yang sesungguhnya. Bank Mini ini kami rancang agar mereka belajar disiplin, pelayanan, dan tanggung jawab secara langsung,” ujarnya.
Di dalam Bank Mini, siswa dilatih menjalankan berbagai peran layaknya dunia perbankan. Mulai dari pelayanan transaksi, pencatatan administrasi, pengelolaan data keuangan, hingga manajemen operasional sederhana.
Menurut Nurhidayatika, pendekatan ini membuat siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga terbiasa menghadapi tekanan kerja, ketelitian, dan standar pelayanan.
“Ketika mereka nanti masuk dunia industri, mereka tidak lagi kaget. Karena sejak sekolah sudah dibiasakan bekerja dalam sistem yang terstruktur,” katanya.
SMK PGRI 1 Palembang sendiri saat ini memiliki empat kompetensi keahlian, yakni Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL), Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP), Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP), serta Perhotelan (PH).
Keempat jurusan tersebut diperkuat dengan pembelajaran berbasis praktik dan kerja sama dengan berbagai instansi pemerintah maupun swasta sebagai tempat praktik kerja lapangan (PKL).
Bank Mini kemudian menjadi salah satu instrumen penting, terutama bagi siswa AKL, untuk mengasah ketelitian, kejujuran, dan kemampuan analisis transaksi keuangan secara langsung.
Selain aspek teknis, program ini juga menekankan pembentukan karakter kerja seperti disiplin waktu, etika pelayanan, dan tanggung jawab dalam pengelolaan administrasi.
Pihak sekolah menilai, pembentukan mental kerja sejak di bangku pendidikan menjadi kunci agar lulusan SMK tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kesiapan menghadapi dunia industri yang semakin kompetitif.
“Target kami bukan hanya lulusan, tapi lulusan yang siap kerja dan siap bersaing,” tegas Nurhidayatika. (KPB)

