RELUNG.ID – Menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November, polemik rencana pemberian gelar pahlawan nasional kembali mencuat. Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, angkat bicara soal sejumlah nama yang masuk prioritas, termasuk Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Berbicara di kediamannya di Solo, Kamis (6/11), Jokowi menegaskan bahwa setiap pemimpin mempunyai kontribusi berarti bagi bangsa.
“Setiap pemimpin baik itu Presiden Soeharto maupun Gus Dur, pasti memiliki peran dan jasa terhadap negara. Dan kita semuanya harus menghargai,” ujar Jokowi.
Ia mengakui bahwa tak ada pemimpin yang sempurna. Menurutnya, kelebihan dan kekurangan adalah hal wajar dalam perjalanan kepemimpinan.
“Kita sadar setiap pemimpin pasti ada kelebihan dan kekurangan. Pemberian gelar jasa terhadap para pemimpin itu juga melalui proses-proses, pertimbangan-pertimbangan dari tim pemberian gelar,” lanjutnya.
Rencana pemerintah yang tengah menggodok 24 nama prioritas penerima gelar pahlawan nasional menimbulkan reaksi beragam di masyarakat. Sosok Soeharto dan Gus Dur menjadi yang paling banyak disorot karena rekam jejak keduanya yang sama-sama bersejarah namun kerap menuai perdebatan.
Bagi Jokowi, dinamika opini publik adalah hal yang lumrah dalam negara demokrasi.
“Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Saya kira biasa. Yang jelas ini ada tim para pakar yang memiliki pertimbangan-pertimbangan dan kita semua harus menghargai,” tegasnya.
Jokowi menegaskan dirinya, sebagai warga negara, menghormati jasa kedua tokoh tersebut.[THQ]

