RELUNG.ID – Ribuan jemaah haji Indonesia mulai memasuki fase paling krusial dalam rangkaian ibadah haji 1447 Hijriah. Menjelang pelaksanaan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), para jemaah diminta fokus menjaga kondisi fisik di tengah cuaca panas ekstrem Arab Saudi.
Kementerian Agama mengingatkan seluruh jemaah untuk mengurangi aktivitas berat, memperbanyak istirahat, serta memastikan kebutuhan pribadi telah dipersiapkan sebelum diberangkatkan menuju Arafah.
Kepala Bidang Bina dan Pengendalian Haji dan Umrah Kanwil Kementerian Agama Sumsel, Muhibbullah, mengatakan seluruh persiapan teknis pelaksanaan Armuzna terus dimatangkan bersama pihak syarikat di Arab Saudi.
“Persiapan terus dilakukan agar proses Armuzna berjalan aman, tertib, dan seluruh jemaah bisa menjalankan ibadah dengan lancar,” ujar Muhibbullah, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, petugas haji telah melakukan pengecekan langsung terhadap tenda-tenda jemaah di Arafah dan Mina untuk memastikan fasilitas siap digunakan saat puncak haji berlangsung.
Mulai 8 Zulhijjah, jemaah dijadwalkan mengenakan pakaian ihram sebelum diberangkatkan secara bertahap menuju Arafah menggunakan sistem transportasi taraddudi atau antar jemput bergiliran.
“Keberangkatan dilakukan bertahap karena keterbatasan armada bus dan tingginya mobilitas jutaan jemaah selama musim haji,” katanya.
Muhibbullah menjelaskan, pengaturan jadwal keberangkatan ditentukan oleh pihak syarikat berdasarkan kloter dan hotel tempat jemaah menginap. Dalam satu hotel, biasanya dihuni jemaah dari berbagai embarkasi sehingga proses pemberangkatan dilakukan bergantian.
Sebelum berangkat, seluruh jemaah akan dikumpulkan oleh ketua regu, ketua rombongan, pembimbing ibadah hingga ketua kloter guna memastikan kesiapan dan kelengkapan anggota rombongan.
Rangkaian puncak haji dimulai dengan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah atau bertepatan 26 Mei 2026. Setelah itu, jemaah bergerak menuju Muzdalifah dan Mina untuk menjalani mabit serta lempar jumrah Aqabah.
Selanjutnya, jemaah akan melaksanakan lempar jumrah pada hari tasyrik tanggal 11 hingga 13 Zulhijjah. Sementara jemaah yang mengambil nafar awal diperbolehkan kembali ke hotel pada 12 Zulhijjah sebelum matahari terbenam.
Selain kesiapan teknis, faktor kesehatan menjadi perhatian utama tahun ini. Muhibbullah meminta jemaah rutin mengonsumsi air putih agar tidak mengalami dehidrasi akibat suhu tinggi di Tanah Suci.
“Fisik harus benar-benar dijaga karena rangkaian Armuzna membutuhkan tenaga yang besar,” ujarnya.
Jemaah juga diimbau membawa perlengkapan pribadi seperti obat-obatan, masker, payung kecil, topi, hingga alat pelindung diri lainnya. Selama Armuzna, jemaah hanya diperbolehkan membawa tas ransel kecil dan tidak diizinkan membawa koper besar.
Untuk kebutuhan konsumsi, makanan siap saji telah dibagikan sebelum keberangkatan agar jemaah memiliki bekal selama perjalanan menuju Armuzna.
“Bekal sudah disiapkan sehingga jemaah bisa langsung makan tanpa harus menunggu distribusi di lokasi,” pungkasnya.[THQ]

