RELUNG.ID — Lembaga Administrasi Negara (LAN) memperkirakan jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia akan mencapai 7,5 juta orang pada tahun mendatang. Proyeksi tersebut mencakup 4,5 juta Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang saat ini bertugas, 3 juta PNS hasil rekrutmen baru, dan 1,5 juta Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Plt Kepala LAN, Muhammad Taufiq, menekankan bahwa peningkatan jumlah PNS harus diiringi dengan peningkatan kompetensi dan kualitas pelayanan publik.
“Kualitas pelayanan publik dan keberhasilan pembangunan nasional sangat bergantung pada kapasitas ASN. Karena itu, LAN mengajak berbagai korporasi berkolaborasi untuk mengembangkan kompetensi ASN,” ujar Taufiq, Minggu (13/10).
LAN telah meluncurkan beberapa program strategis, seperti ASN Talent Academy, untuk membekali ASN dengan keterampilan kepemimpinan.
Selain itu, melalui Leadership Joint Program, LAN bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan kompetensi manajerial ASN, terutama di tingkat pengawas.
“Leadership Joint Program akan menjadi ekosistem pelatihan berkelanjutan, yang memberikan kesempatan bagi ASN untuk belajar dari berbagai sumber terbaik,” jelas Taufiq.
LAN juga memperkenalkan konsep Learning Ecosystem, kolaborasi antara birokrasi dan swasta untuk mengatasi kesenjangan kompetensi ASN dan mendukung pengembangan berkelanjutan.
Sementara itu, Yunus Triyonggo dari Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) menyoroti tantangan daya saing talenta Indonesia. Berdasarkan *Global Talent Competitiveness Index, Indonesia masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di Asia.
“Selain tantangan indeks kompetensi, kita juga menghadapi fenomena Gen Z Workforce yang bekerja di era digital. Mereka berharap organisasi tempat mereka bekerja bisa mengikuti perkembangan teknologi,” ungkap Yunus.
Dengan tantangan tersebut, LAN dan GNIK berharap kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat ekosistem ASN yang kompeten dan adaptif terhadap perubahan di masa mendatang
.

