RELUNG.ID – Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang 2025. Berdasarkan data terbaru BPBD Sumsel, jumlah kejadian karhutla telah mencapai 629 kasus, dengan tujuh kabupaten masih berstatus zona merah karena tingkat kebakaran yang tinggi.
“Kasus karhutla masih terjadi dalam beberapa hari terakhir. Jumlahnya kini mencapai 629 kejadian. Zona merah masih tersebar di tujuh daerah,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Senin (6/10/2025).
Tujuh daerah yang berada di kategori zona merah tersebut meliputi Ogan Ilir dengan 128 kasus, Musi Banyuasin (120), Ogan Komering Ilir (101), Banyuasin (76), Muara Enim (66), Penukal Abab Lematang Ilir (50), dan Musi Rawas (36).
Sementara itu, beberapa daerah lain masih berstatus zona kuning dengan 1–15 kejadian, seperti Muratara, OKU Timur, Palembang, OKU, Empat Lawang, OKU Selatan, Lahat, Prabumulih, dan Lubuklinggau. Hanya Kota Pagar Alam yang tercatat berada di zona hijau, atau wilayah tanpa kasus karhutla dalam periode terakhir.
“Status siaga bencana asap akibat karhutla di Sumsel masih berlaku hingga 30 November 2025. Antisipasi terus dilakukan sampai masa siaga berakhir,” lanjut Sudirman.
Ia menambahkan, potensi kebakaran masih tinggi mengingat titik panas (hotspot) masih terpantau di sejumlah wilayah. Sepanjang Januari–September 2025, total hotspot yang terdeteksi mencapai 3.837 titik. Peningkatan signifikan terjadi sejak Mei, dengan rincian 523 titik pada Mei, 576 titik pada Juni, 1.321 titik pada Juli, 489 titik pada Agustus, dan 501 titik pada September.
Untuk mengantisipasi penyebaran api, tim gabungan terus melakukan patroli udara dan pemeriksaan darat (ground check) di lokasi-lokasi yang terpantau panas.
“Kami bersama Satgas Darat rutin memantau titik-titik rawan untuk mencegah kebakaran meluas,” ujar Sudirman.
BPBD Sumsel mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melapor jika melihat indikasi kebakaran hutan atau lahan. Upaya kolaborasi lintas instansi diharapkan dapat menekan laju karhutla menjelang puncak musim kemarau.[THQ]

