RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, Sumatera Selatan, mulai menimbulkan dampak langsung terhadap satwa liar.
Tiga ekor trenggiling ditemukan mati terpanggang setelah api melalap kawasan konservasi tersebut.
Ketiga trenggiling itu ditemukan petugas di sekitar Posko Jalur 7 setelah api berhasil dipadamkan pada Jumat (4/9/2026). Satwa yang mati terdiri dari satu individu anakan dan dua trenggiling dewasa.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel Daniwari Widiyanto mengatakan kematian satwa tersebut menjadi perhatian serius karena trenggiling merupakan salah satu satwa liar penting yang hidup di kawasan SM Padang Sugihan.
“Kita sangat menyayangkan ada trenggiling yang menjadi korban karhutla kemarin. Karena trenggiling merupakan salah satu satwa liar penting di SM Padang Sugihan,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Karhutla di kawasan tersebut diketahui telah berlangsung sejak 26 Agustus 2026 dan hingga kini masih dalam penanganan. Selain menghanguskan vegetasi, kobaran api dan asap juga mengancam habitat satwa yang berada di dalam kawasan konservasi.
Salah satu yang menjadi perhatian BKSDA adalah 29 ekor gajah yang berada di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21. Petugas terus memastikan api tidak bergerak mendekati lokasi habitat dan area aktivitas gajah.
Di antara puluhan gajah tersebut terdapat Rohmah, bayi gajah yang kini terus tumbuh bersama induknya, Ronika. Kondisi keduanya sejauh ini masih aman meski asap dari kebakaran tetap menjadi perhatian.
“Di tengah kondisi kebakaran hutan yang sedang terjadi, Rohmah dan keluarga sejauh ini dalam kondisi sehat dan aman. Habitat utama tempatnya merumput juga masih tersedia, meskipun sebaran asap tetap menjadi perhatian karena dapat berdampak pada habitat dan keluarga besar gajah lainnya,” jelas Daniwari.
BKSDA meningkatkan pemantauan terhadap seluruh gajah di PKG Jalur 21 selama kebakaran berlangsung. Para mahout memastikan kebutuhan dasar satwa, mulai dari pakan, air minum, kesehatan hingga ruang gerak tetap terpenuhi.
Perawatan kesehatan juga dilakukan secara rutin untuk mengantisipasi dampak kondisi lingkungan akibat asap dan kebakaran.
“Ada juga dokter Mahmudi, yang bersama para mahout rutin melakukan perawatan preventif. Mulai dari pemantauan kesehatan dan nutrisi, pemberian suplemen serta pakan tambahan sesuai kebutuhan, sampai snack sehat berupa buah-buahan,” ungkapnya.
Di lapangan, Brigdalkarhut BKSDA Sumsel bersama Manggala Agni Kementerian Kehutanan dan unsur lainnya terus menjaga kawasan prioritas. Area yang menjadi tempat gajah bermain dan mencari pakan menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian.
Daniwari berharap seluruh petugas yang masih bekerja di tengah kondisi sulit tersebut diberikan keselamatan dan kesehatan hingga penanganan karhutla selesai.
“Mohon doanya, semoga seluruh petugas selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan kekuatan dalam menjalankan tugas. Semoga kondisi ini dapat segera kembali normal dan hujan segera turun,” ucapnya.
Sementara itu, upaya pemadaman di SM Padang Sugihan masih berlanjut. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra Ferdian Krisnanto mengatakan karakteristik lahan menjadi salah satu kendala utama bagi petugas.
Sebagian kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan vegetasi semak belukar. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman dan pendinginan harus dilakukan secara berulang untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, masyarakat peduli api, BKSDA Sumsel, pemadam dari perusahaan serta dukungan helikopter water bombing masih dikerahkan.
“Asap dari kebakaran bahkan mengarah ke kawasan sungai dan mengganggu aktivitas lalu lintas. Kondisi asap yang pekat dan panas juga menjadi perhatian karena berada di sisi timur kawasan yang menjadi habitat gajah. Sambil pemadaman, tim juga melakukan pendinginan agar tidak ada lagi muncul asap yang membahayakan,” terang Ferdian. (THQ)

