RELUNG.ID – Luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) mencapai 1.926 hektare hingga Minggu, 23 Agustus 2026.
Salah satu wilayah yang terdampak karhutla ini Kabupaten Ogan Ilir. Terlihat, Kondisi lahan di sejumlah titik di pinggir Jalan Indralaya hangus terbakar akibat peristiwa tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Berton Pandjaitan, mengatakan kondisi tersebut menjadi perkembangan positif di tengah upaya penanganan karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumsel.
“Luas lahan terbakar adalah 1.926 hektare. Tidak ada penambahan hari ini dari hari kemarin,” kata Berton dalam siaran langsung melalui kanal YouTube BNPB, Minggu, (23/8/2026).
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, BNPB telah mengerahkan 11.567 personel dalam operasi darat.
Dukungan tersebut juga dilengkapi tujuh kendaraan operasional, 17 peralatan pemadaman, 20 fleksibel tank, serta 170 set alat pelindung diri (APD) dan perlengkapan personel.
Selain penanganan kebakaran, kondisi cuaca dan potensi kemudahan terbakar juga menjadi perhatian pemerintah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Sumsel akan mengalami cuaca cerah hingga berawan dalam tujuh hari ke depan. Sementara itu, curah hujan selama Agustus 2026 diprediksi masih berada dalam kategori rendah.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama di wilayah dengan kondisi lahan yang kering.
Dari sisi kualitas udara, secara umum masih berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Sejumlah wilayah juga dilaporkan memiliki jarak pandang kurang dari tiga kilometer.
Sementara itu, berdasarkan kondisi pada 22 Agustus 2026, potensi kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di sebagian besar wilayah Sumsel berada dalam kategori mudah terbakar.
Penanganan karhutla juga dilakukan melalui operasi udara. BNPB mengerahkan sembilan armada yang terdiri dari dua unit patroli udara dan tujuh helikopter water bombing.
Armada tersebut digunakan untuk memantau titik-titik rawan sekaligus melakukan pemadaman dari udara terhadap lokasi yang sulit dijangkau melalui operasi darat.
BNPB juga menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) sebelumnya telah dilakukan pada 5–15 Mei 2026 dan 4–10 Agustus 2026. Operasi tersebut dinyatakan berhasil dilaksanakan sebagai bagian dari upaya penanganan karhutla di Sumsel.
Meski luas lahan terbakar belum bertambah, kondisi cuaca kering dan potensi lahan mudah terbakar membuat kewaspadaan terhadap karhutla di Sumsel masih perlu dipertahankan. (ril)

