RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan pada semester pertama 2026 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Bukan hanya jumlah kejadian yang meningkat, tetapi juga luas lahan yang terbakar melonjak hingga 77,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Data Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera mencatat, total luas karhutla di Sumsel sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 664,87 hektare. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan semester I/2025 yang tercatat 374,8 hektare.
Kepala Balai Dalkarhut Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan data tersebut diperoleh melalui analisis citra satelit hasil kolaborasi Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Kementerian Lingkungan Hidup.
“Sebagai informasi, luasan kebakaran di Sumsel meningkat cukup signifikan. Hingga Januari-Juni 2026 saat ini mencapai 664,87 hektare,” ujar Ferdian, Senin (20/7/2026).
Berdasarkan karakteristik lahannya, kebakaran masih didominasi lahan mineral dengan luas mencapai 642,30 hektare atau sekitar 96,6 persen dari total area terdampak. Sementara kebakaran di lahan gambut tercatat 22,57 hektare.
Dominasi kebakaran di lahan mineral menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak hanya terjadi di kawasan gambut, tetapi juga meluas ke wilayah daratan yang banyak dimanfaatkan untuk aktivitas perkebunan, pertanian, maupun kawasan semak belukar.
Ferdian mengingatkan, angka tersebut belum menjadi gambaran akhir karena memasuki Juli frekuensi kebakaran mulai meningkat seiring musim kemarau.
“Luasan ini tentunya masih akan bertambah karena pada Juli frekuensi kejadian kebakaran juga lebih banyak,” katanya.
Secara wilayah, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi daerah dengan luas kebakaran terbesar, mencapai 201,50 hektare, seluruhnya terjadi di lahan mineral.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dengan luas kebakaran 95,96 hektare, terdiri dari 94,48 hektare lahan mineral dan 1,12 hektare lahan gambut.
Selanjutnya Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mencatat luas kebakaran 83,13 hektare, dengan rincian 63,68 hektare lahan mineral dan 19,44 hektare lahan gambut, menjadi daerah dengan kebakaran gambut terbesar di Sumsel selama semester pertama tahun ini.
Sementara itu, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencatat luas karhutla 73,16 hektare, disusul Kabupaten Muara Enim seluas 64,66 hektare, yang seluruhnya terjadi di lahan mineral.
Meski OKU menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, pemerintah tetap memberikan perhatian khusus kepada Kabupaten Ogan Ilir sebagai salah satu kawasan prioritas pengendalian karhutla.
Menurut Ferdian, Ogan Ilir memiliki sejumlah infrastruktur strategis yang berpotensi terdampak apabila kebakaran terjadi di sekitar kawasan tersebut, mulai dari jalan tol, jalan lintas nasional hingga objek vital nasional berupa jaringan pipa minyak.
“Kalau terjadi kebakaran di sisi jalan, asapnya bisa mengganggu lalu lintas, memicu kecelakaan. Di sana juga ada beberapa pipa minyak yang menjadi perhatian kami,” pungkasnya.[THQ]

