RELUNG.ID — Kasus gagal ginjal pada anak-anak menunjukkan peningkatan yang signifikan, mengkhawatirkan para ahli medis di Indonesia.
Prof Dr dr Endang Susalit, seorang ahli penyakit ginjal dari RS Siloam Asri Jakarta, menyatakan bahwa penyakit gagal ginjal yang memerlukan hemodialisis atau cuci darah kini tidak hanya dialami oleh orang tua, tetapi juga terjadi pada usia muda, termasuk anak-anak.
“Gagal ginjal bisa menyerang semua umur. Namun, saat ini, penyakit gagal ginjal mengalami peningkatan terutama pada anak-anak hingga harus cuci darah,” ungkap Prof Endang saat ditemui di Palembang pada Senin (12/8/2024).
Penyebab gagal ginjal pada anak dan dewasa bervariasi. Pada anak-anak, gagal ginjal sering kali disebabkan oleh penyakit degeneratif atau penurunan fungsi organ dalam, seperti ginjal yang kurang sempurna sejak lahir.
Prof Endang juga menambahkan bahwa pola makan yang tidak sehat, jika dilakukan secara terus-menerus dan mengandung zat berbahaya, dapat mengganggu fungsi ginjal.
“Umumnya, penyakit gagal ginjal pada anak disebabkan oleh faktor penyakit bawaan sejak lahir,” jelas Prof Endang. Sementara itu, pada orang dewasa, penyebab utama gagal ginjal adalah konsumsi obat penghilang rasa sakit secara terus-menerus, yang dapat merusak fungsi ginjal.
Prof Endang juga menyinggung tentang transplantasi ginjal sebagai salah satu opsi bagi anak-anak yang mengalami gagal ginjal. Proses transplantasi ginjal ini sangat ketat, melibatkan tim advokasi, serta serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kecocokan antara donor dan penerima ginjal.
“Bagi anak yang mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah, transplantasi ginjal bisa menjadi solusi. Biasanya, donor ginjal berasal dari ibu mereka. Di Indonesia, transplantasi ginjal dapat dilakukan pada anak usia 5 atau 6 tahun,” tutup Prof Endang.[AYK]

