RELUNG.ID- Presiden ke-2 RI Soeharto resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 10 November 2025. Menyikapi penganugerahan ini, keluarga besar Soeharto menggelar acara syukuran yang dihadiri anak-anak, cucu, dan sejumlah kerabat dekat.
Momen syukuran tersebut tampak dalam unggahan akun Instagram Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto. Dalam narasinya, Titiek menyampaikan rasa syukur atas gelar yang diberikan kepada ayahandanya, Jenderal Besar HM Soeharto.
“Jkt, 10 Nov 2025. Lengkap kami 6 orang putra/putri dan cucu alm Pak Harto dan Ibu Tien berkumpul dalam acara syukuran penganugerahan gelar Pahlawan Nasional utk Ayahanda tercinta Bpk Jenderal Besar HM Soeharto. Alfatihah…,” tulis Titiek di akun @titieksoeharto.
Dari unggahan tersebut terlihat suasana hangat kebersamaan keluarga. Sebanyak 19 foto yang ditampilkan memperlihatkan potret Titiek bersama lima saudaranya serta para tamu undangan. Ada pula foto pigura Soeharto, piagam pahlawan nasional, dan sejumlah penghargaan lain. Dalam salah satu momen, anak sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut, terlihat memotong tumpeng nasi kuning.
Keluarga Soeharto yang hadir meliputi enam bersaudara: Siti Hardijanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih. Sejumlah cucu turut hadir, termasuk Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau Didit Prabowo.
Sejumlah tokoh nasional juga tampak hadir, antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, serta Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
Soeharto menjadi salah satu dari 10 tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Upacara penganugerahan digelar di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Senin (10/11/2025), dan diterima oleh dua ahli warisnya, Bambang Trihatmodjo dan Siti Hardijanti Rukmana.
Dalam pemaparannya, narator menjelaskan alasan penetapan Soeharto sebagai pahlawan bidang perjuangan. “Jenderal Soeharto menonjol sejak masa kemerdekaan. Sebagai Wakil Komandan BKR Yogyakarta, ia memimpin pelucutan senjata Jepang di Kota Baru tahun 1945,” demikian pembacaan narasi saat penganugerahan berlangsung.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto memicu kritik dari berbagai kalangan. Sejumlah pihak menilai Soeharto tidak layak mendapat gelar tersebut karena rekam jejak pelanggaran HAM selama 32 tahun masa kepresidenannya.
Menanggapi kritik tersebut, Tutut Soeharto menyatakan bahwa perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam kehidupan demokrasi.
“Masyarakat Indonesia kan macam-macam ya, ada yang pro, ada yang kontra, itu wajar-wajar saja,” kata Tutut.
“Yang penting kita melihat apa yang dilakukan oleh bapak saya dari sejak muda sampai beliau wafat. Itu semua kan untuk masyarakat Indonesia,” lanjutnya.[YKP]

