Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diterapkan pemerintah pusat per Sabtu (3/9) menjadi ke khawatiran Dinas Perdagangan Sumsel. Pasalnya, kenaikan BBM ini mengancam inflasi di Sumsel.
Demikian diakui oleh Kepala Dinas Perdagangan Sumsel, Ahmad Rizali, Sabtu (3/9).
Dia mengatakan kenaikan BBM subsidi ini tentunya bakal berdampak pada kenaikan harga bahan pokok. Karena, distribusi bahan pokok tentunya membutuhkan kendaraan yang menggunakan BBM. Artinya, harga bahan pokok akan disesuaikan dengan biaya kenaikan BBM bersubisi ini,
“Kondisi ini tentu bakal berdampak pada penurunan daya beli,” katanya.
Karena itu, perlu dilakukan sejumlah intervensi agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Seperti, mempercepat penyaluran bantuan langsung tunai dan beragam insentif lainnya. “Jika tidak cepat ditanggulangi maka bukan tidak mungkin angka inflasi di Sumsel meningkat di akhir tahun,” katanya.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat angka inflasi di Sumsel di Juli 2022 sebesar 6,26 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 5,40 persen.
Inflasi ini dipengaruhi oleh dua sektor yakni sektor makanan dan sektor energi. Sektor bahan makanan sendiri berpengaruh tinggi yakni 10,88 persen terhadap inflasi, sedangkan sektor energi berpengaruh 5,02 persen terhadap inflasi.
“Kenaikan harga dua sektor ini harus diwaspadai, dan pemerintah harus bisa mengendalikan harga dua sektor tersebut,” kata Kepala BPS Sumsel, Margo Yuwono, Rabu (31/8).
