RELUNG.ID — Pada era 1990-an, Kota Palembang memiliki dua tempat yang sangat populer di kalangan muda-mudi yaitu Swalayan Dika dan Hero Mal.
Kedua tempat ini pernah menjadi primadona tujuan wisata dan pusat perbelanjaan, namun kini tinggal kenangan setelah keduanya gulung tikar akibat tragedi kebakaran.
Swalayan Dika: Dari Primadona hingga Hilang Pamor
Swalayan Dika, yang terletak di Jalan Beringin Janggut II, Palembang, pada masanya menjadi pusat konveksi dan pembelanjaan favorit warga Palembang. Bangunan tiga lantai ini dikenal sebagai tempat menjahit baju dan membeli pakaian.
Namun, setelah mengalami kebakaran untuk ketiga kalinya pada tahun 2006, Swalayan Dika sempat tutup dan bangkrut. Meskipun sempat direnovasi dan dibuka kembali pada tahun 2008, penutupan selama dua tahun membuat swalayan ini kehilangan banyak pelanggan dan menjadi sepi.
Saat ini, Swalayan Dika hanya tersisa satu lantai yang masih aktif digunakan oleh pedagang handphone, penjahit baju, serta penjual bingkai foto.
Andre, seorang pedagang handphone di Swalayan Dika, mengeluhkan penurunan penghasilan akibat sepinya pengunjung.
“Dika ini tidak seramai dulu sebelum kebakaran 2006. Dika ini menjadi pusat perbelanjaan masyarakat, namun sejak kebakaran itu, Dika mengalami kehilangan pelanggan,” katanya.
Hero Mal: Tempat Gaul yang Kini Tinggal Kenangan
Nasib serupa dialami Hero Mal yang berada di Kecamatan Bukit Kecil, Komplek Ilir Barat Permai (IBP). Pusat perbelanjaan ini terkenal sebagai tempat berkumpulnya remaja-remaja gaul untuk menikmati hiburan seperti cinema 21 dan bom-bom car.
Namun, setelah mengalami kebakaran pada awal tahun 2000-an, Hero Mal bangkrut.
Kini, gedung yang dulunya menjadi lokasi Hero Mal kosong dan tidak terpakai. Gedung ini sempat dibuka sebagai tempat makan, namun kembali tutup. Salah satu warga sekitar, Rara, mengingat kenangan masa kecilnya di Hero Mal.
“Waktu dulu tahun 2002 kalau nggak salah terakhir ke Hero Mal sama ayah dan ibu untuk bermain bom-bom car. Di Hero Mal itu dulu lengkap semuanya, ada mal keren lah saat tahun 1990-an semua remaja pasti ke situ,” katanya.
Kisah Swalayan Dika dan Hero Mal menggambarkan bagaimana dua tempat yang pernah berjaya pada zamannya bisa berakhir tragis akibat kebakaran, dan bagaimana kenangan akan tempat-tempat tersebut tetap hidup di benak masyarakat Palembang. [AYK]

