RELUNG.ID- Kementerian Perhubungan memastikan seluruh awak pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan telah memenuhi standar kesehatan penerbangan sebelum bertugas.
Kepastian tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa.
“Berdasarkan data Medical Examination (MEDEX) terakhir, seluruh awak pesawat yang bertugas dinyatakan fit dan telah memenuhi standar kesehatan penerbangan sesuai ketentuan Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 67,” kata Lukman dalam pernyataan resmi, Senin (19/1/2026).
Lukman menegaskan seluruh sertifikat kesehatan awak pesawat masih berlaku saat pesawat dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Ia memastikan tidak ada catatan medis yang menunjukkan awak pesawat dalam kondisi tidak laik saat menjalankan tugas.
Rincian pemeriksaan kesehatan awak pesawat pun dipaparkan. Capt. Andy Dahananto selaku Pilot in Command tercatat memiliki sertifikat kesehatan Kelas 1 dengan pemeriksaan terakhir pada 28 Juli 2025 dan masa berlaku hingga 31 Januari 2026.
First Officer (FO) Yudha Mahardika juga mengantongi sertifikat kesehatan Kelas 1. Pemeriksaan medis terakhir dilakukan pada 15 Agustus 2025 dengan masa berlaku hingga 15 Februari 2026.
Sementara itu, Hariadi yang bertugas sebagai Flight Operations Officer memiliki sertifikat kesehatan Kelas 3. Pemeriksaan medis terakhir dilakukan pada 12 Juli 2024 dan sertifikat tersebut berlaku hingga 12 Juli 2026.
Dua awak kabin, Florencia Lolita dan Esther Aprilita Pinarsinta Sianipar, masing-masing memegang sertifikat kesehatan Kelas 2.
Florencia menjalani pemeriksaan medis terakhir pada 31 Januari 2025 dengan masa berlaku hingga 31 Januari 2026, sedangkan Esther terakhir diperiksa pada 24 September 2024 dengan masa berlaku hingga 24 September 2026.
“Dengan demikian, tidak terdapat catatan medis yang menunjukkan awak pesawat tidak laik secara kesehatan pada saat bertugas,” tegas Lukman.
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT tersebut dioperasikan oleh Indonesia Air Transport untuk melayani rute Yogyakarta–Makassar. Pesawat dilaporkan hilang kontak saat bersiap melakukan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
Beberapa waktu kemudian, Tim SAR Gabungan menemukan sejumlah serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
“Pada pukul 07.46 WITA, tim berhasil mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela yang menjadi penanda awal lokasi kecelakaan,” pungkas Lukman. [YKP]

