RELUNG.ID – Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumsel berakibat meningkatnya tingkat turbidity atau tingkat kekeruhan air di Sungai Ogan.
Akibatnya, distribusi air Perumda Tirta Musi di wilayah Seberang Ulu menjadi keruh sejak Minggu (26/5).
Demikian diakui Direktur Operasional Perumda Tirta Musi, Cik Mit, Jumat (31/5).
Dia mengatakan saat ini kekeruhan air baku telah mencapai 980 NTU. Hal ini berdampak pada distribusi 60 ribu pelanggan di Seberang Ulu. Mengingat, air baku ini berasal dari Sungai Ogan.
Menurutnya, air Perumda Tirta Musi yang diterima pelanggan saat ini sedikit berwarna, seperti kabut, agak keputihan tapi masih di dalam kategori aman dikonsumsi.
“Dari 60 ribu pelanggan ada 30 persennya atau 10-20 ribu pelanggan di Seberang Ulu 1, Seberang Ulu 2, Plaju, Jakabaring dan Kertapati yang terdampak kekeruhan ini,” katanya.
Kekeruhan itu di luar ambang produksi. Karena itu, agar instalasi tetap beroperasi maka kapasitas produksi air diturunkan sebanyak 30 persen.
“Sehingga masih dapat diproduksi dengan hasilnya sesuai Permenkes nomor 2 tahun 2023 dimana kekeruhan air hasil produksi di bawah 3 NTU, yang kita dapatkan berada di angka 2 NTU artinya masih layak dikonsumsi,” jelasnya.
Untuk itu, Perumda Tirta Musi meminta maaf kepada seluruh pelanggan Perumda Tirta Musi karena 2 hal yang terjadi.
Pertama karena telah mengurangi kapasitas produksi air, artinya terjadi pengurangan distribusi air, maka pasti ada keluhan air keluar dari biasanya 24 jam jadi beberapa jam, atau hanya dapat malam saja karena pengurangan kapasitas air 30 persen.
Kedua, karena air baku keruh meski per hari ini turun mencapai 250 NTU, air yang diterima pelanggan keruh tapi masih bisa dikonsumsi karena masih sesuai ambang Permenkes.
“Kami mohon maaf kepada pelanggan Seberang Ulu, dalam 7-10 hari normal kembali jika tidak ada banjir lagi atau sesuatu yang membuat air baku keruh di atas ambang normal,” pungkasnya.

