RELUNG.ID – Presiden Donald Trump menegaskan kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus menjadi bagian utama kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Ia bahkan mengancam meningkatkan serangan militer terhadap Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi sebelum tenggat waktu yang ditetapkan.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menekankan bahwa jalur distribusi minyak global harus kembali terbuka guna menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Pemerintah AS memandang Selat Hormuz sebagai titik krusial perdagangan minyak internasional yang tidak boleh terhambat.
“Kita harus memiliki kesepakatan yang dapat diterima oleh saya, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kita menginginkan lalu lintas minyak yang bebas dan segalanya,” kata Trump.
Trump juga memperingatkan konsekuensi serius apabila kesepakatan tidak tercapai sesuai batas waktu. Ia menyebut militer AS memiliki kemampuan untuk melumpuhkan berbagai infrastruktur penting Iran dalam waktu singkat. Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena serangan terhadap fasilitas sipil berpotensi melanggar ketentuan hukum internasional, termasuk aturan dalam Konvensi Jenewa.
“Maksud saya penghancuran total pada pukul 12 siang, dan itu akan terjadi dalam jangka waktu empat jam, jika kita mau. Kita tidak ingin itu terjadi,” ujarnya.
Konflik yang telah memasuki bulan kedua ini dilaporkan menelan ribuan korban jiwa dan memicu gejolak besar pada pasar energi global. Ketegangan di kawasan Teluk berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia, mengingat sebagian besar pasokan energi melewati Selat Hormuz.
Pemerintah Iran memperingatkan akan memberikan respons keras apabila fasilitas sipil menjadi target serangan. Teheran bahkan membuka kemungkinan meningkatkan tekanan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, yang berisiko memperburuk krisis bahan bakar global dan memicu dampak ekonomi lebih luas.[THQ]

