Palembang — Industri karet di Sumatra Selatan menghadapi tantangan baru di awal 2026. Meski sempat mencatat kinerja positif sepanjang tahun lalu, pelaku usaha mulai memasang sikap waspada terhadap arah harga dan volume ekspor karet ke pasar internasional.
Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Eddy, menilai dinamika kebijakan negara-negara besar berpotensi memberi tekanan pada industri karet nasional, termasuk Sumsel yang selama ini menjadi salah satu sentra utama produksi dan ekspor.
Menurutnya, kebijakan perdagangan global menjadi faktor yang tidak bisa dihindari. Perubahan tarif dan pola impor negara tujuan berisiko memengaruhi daya saing karet Indonesia di pasar dunia.
“Situasi global saat ini cukup sensitif. Kebijakan baru dari negara besar bisa langsung berdampak pada harga dan arus ekspor karet,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor karet Sumsel dengan porsi terbesar, diikuti China, Eropa, India, dan Jepang. Ketergantungan pada pasar tertentu dinilai membuat industri karet rentan terhadap perubahan kebijakan sepihak.
Di sisi lain, kinerja ekspor karet Sumsel sepanjang 2025 menunjukkan tren membaik. Volume pengiriman ke luar negeri tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan menguatnya harga karet di pasar global.
Alex menjelaskan, kenaikan tersebut tidak lepas dari kondisi pasokan global yang terganggu di beberapa negara produsen akibat bencana alam. Hal ini membuat Sumsel menjadi salah satu daerah yang menopang pasokan karet dunia.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sentimen negatif dan isu kebijakan global dapat dengan cepat menekan harga di tingkat produsen jika tidak diantisipasi.[THQ]

