RELUNG.ID – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) III Plaju mencatatkan pencapaian gemilang dalam produksi Polytam, biji plastik jenis polypropylene (PP), sepanjang tahun 2024.
Kilang ini berhasil memproduksi 50.172 ton Polytam, melampaui target RKAP sebesar 42 ribu ton, sekaligus mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 118 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 41 ribu ton.
Rata-rata produksi Polytam di Kilang Pertamina Plaju mencapai 4,1 ribu ton per bulan pada tahun 2024. Produk ini menjadi salah satu andalan Pertamina dalam mendukung industri petrokimia nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik.
Polytam dihasilkan melalui tiga tahap proses utama: purifikasi, polimerisasi, dan pelletizing. Proses ini menggunakan bahan baku raw propane propylene yang dipasok dari FCCU (Fluid Catalytic Cracking Unit) Kilang Sungai Gerong.
Melalui proses polimerisasi, bahan-bahan seperti propylene, katalis, hexane, dan hidrogen diolah menjadi powder homopolymer yang dikemas dalam kantong 25 kg untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia.
Kualitas Polytam yang dihasilkan memenuhi standar internasional, seperti ISO 14001:2015, ISO 9001:2015, dan ISO 45001:2018, serta telah memperoleh sertifikasi halal dan Food Grade.
Produk ini memiliki karakteristik unggul, seperti ketahanan terhadap panas, oksidasi, serta warna putih yang lebih cerah, menjadikannya ideal untuk kemasan makanan dan minuman.
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Pertamina Plaju, Siti Rachmi Indahsari, menekankan bahwa Polytam adalah plastik berkualitas tinggi yang aman digunakan berulang kali.
“Polytam digunakan sebagai bahan baku kantong plastik, terutama untuk industri kemasan makanan dan minuman. Produk ini tidak hanya aman tetapi juga berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan domestik,” ungkapnya.
Melihat keberhasilan tahun 2024, Kilang Pertamina Plaju menargetkan produksi 43 ribu ton Polytam pada tahun 2025. Kilang ini terus mendorong inovasi dan keandalan operasional untuk memenuhi kebutuhan pasar dan meningkatkan daya saing.
“Petrokimia adalah sektor bisnis masa depan bagi Pertamina. Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dan memastikan kilang dapat berkembang dengan mengikuti dinamika pasar,”tutup Rachmi.
Kilang Pertamina Plaju, yang telah beroperasi sejak 1972, tidak hanya menjadi tulang punggung industri energi nasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi industri petrokimia Indonesia.[AYK]

