RELUNG.ID – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel terus mematangkan program pembinaan jangka panjang bertajuk Sriwijaya Gold 2028.
Program ini menjadi roadmap prestasi yang disiapkan untuk mengembalikan kejayaan olahraga Sumsel di PON 2028 dan PON 2032.
Sekretaris Umum (Sekum) KONI Sumsel, Tubagus Sulaiman menegaskan program ini dirancang tidak hanya sebagai konsep, tetapi sebagai sistem pembinaan berkelanjutan yang berbasis sport science.
Menurut Tubagus, pembinaan dilakukan secara terstruktur dari tahun 2024 hingga 2028.
“Para atlet akan menjalani pemusatan latihan berjalan, pendampingan ahli, dan monitoring rutin yang melibatkan tim sports science, pelatih, serta bidang binpres KONI Sumsel,” kata Tubagus saat menjadi narasumber dalam kegiatan Kerjasama Bidang Olahraga Pembinaan Atlet di Hotel Beston, Selasa (9/12/2025).
Program ini juga membuka peluang bagi atlet tertentu untuk ditempatkan di luar negeri, pelatnas, maupun pusat pembinaan khusus seperti Ragunan, sesuai kebutuhan cabang olahraga masing-masing.
Dijelaskan Tubagus, pembinaan dalam program tersebut mencakup 287 atlet dari 34 cabang olahraga dengan pengawasan 34 pelatih dan asisten pelatih.
Para atlet dikategorikan menjadi elite, potensial, dan harapan, berdasarkan prestasi di PON, Kejurnas, maupun kejuaraan tingkat nasional lainnya.
Sriwijaya Gold 2028 juga menerapkan sistem promosi dan degradasi secara tegas agar pembinaan berjalan objektif.
Atlet yang menunjukkan peningkatan signifikan berpeluang naik kategori, sementara mereka yang tidak memenuhi standar bisa dikeluarkan dari program setelah melalui evaluasi teknis, uji fisik, hingga penilaian psikologis.
“Targetnya sebagian besar atlet bisa lolos Pra-PON, sementara pada 2028, 10 hingga 15 persen dari atlet binaan diharapkan mampu menyumbang medali emas di PON. Kami juga menargetkan Sumsel bisa masuk lima besar pada PON 2032,” paparnya.
Tubagus menambahkan keberhasilan program tidak hanya bertumpu pada KONI, tetapi juga membutuhkan dukungan penuh pemerintah daerah, BUMN/BUMD, dan sektor swasta.
Dukungan mulai dari fasilitas latihan, kebutuhan gizi, kesejahteraan atlet dan pelatih, hingga pembiayaan try out sangat menentukan stabilitas pembinaan.
“Ini adalah langkah serius dan terukur. Kami membangun ekosistem prestasi, bukan sekadar latihan rutin. Semua proses harus disiplin, ilmiah, dan transparan. Harapan kami, Sumsel kembali berprestasi dan menunjukkan taringnya di PON mendatang,” tutupnya. (KPB)

