RELUNG.ID – Di momen Ramadan ini, Ustadz Setiawan dari PCNU Palembang menekankan pentingnya wawasan dan pemahaman berbagai kategori nabi dan rasul dalam Islam.
Hal ini sebagai bagian dari kajian rukun iman dan salah satu pilar keimanan dalam Islam.
Demikian diungkapkannya dalam Kultum Ramadan dengan teman beriman kepada nabi dan rasulnya di Relung Media, Sabtu (16/3).
Ustadz Setiawan memaparkan bahwa rukun iman, sebagai salah satu pilar keimanan dalam Islam, mencakup enam poin, di antaranya keyakinan kepada para nabi dan rasul Allah. Dalam penjelasannya, beliau mengelompokkan nabi dan rasul ke dalam enam kategori, yaitu:
Kategori Pertama: Nabi dan rasul yang namanya disebutkan secara tekstual dalam Alquran, dimulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Sebanyak 25 nama tokoh ini telah menjadi bagian dari hafalan dan pemahaman umat Islam.
Kategori Kedua: Nabi dan rasul yang kisahnya diceritakan dalam Alquran namun tidak disebutkan namanya secara eksplisit. Di antaranya terdapat tiga kisah besar, seperti Nabi Samui (Samuel), al-Khidr (yang dikenal juga sebagai Melkisedek dalam tradisi Yahudi), dan Nabi Uzair (Izra).
Kategori Ketiga: Nabi dan rasul yang tidak disebutkan dalam Alquran baik secara tekstual maupun kontekstual, namun dikisahkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, contohnya adalah Nabi Syid Allah dan Nabi Syamaun alghazi.
Kategori Keempat: Tokoh yang namanya muncul dalam Alquran secara jelas, tetapi di kalangan ulama masih terjadi perbedaan pendapat apakah mereka termasuk nabi dan rasul atau hanya orang saleh. Contoh yang dikemukakan adalah kisah Luqman al-Hakim dan Dhul-Qarnayn.
Kategori Kelima: Nabi dan rasul yang disebutkan dalam kitab-kitab suci sebelum turunnya Alquran, seperti Nabi Danial yang makamnya dikenal di berbagai tempat, terutama dalam tradisi Yahudi.
Kategori Keenam: Pemuka agama dari luar Islam yang diyakini oleh sebagian ulama sebagai nabi dan rasul yang diutus kepada umatnya masing-masing, seperti Siddhartha Gautama pada agama Buddha, Krishna dalam agama Hindu, Zoroaster dalam agama Majusi, serta Kongzi pada tradisi Konghucu.
“Setiap tokoh agama, meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, mempunyai peran penting sebagai pembawa risalah dan pemimpin bagi umatnya. Karena itu, umat Islam tidak boleh menghina atau merendahkan pemuka agama lain,” katanya.
Beliau juga menyampaikan hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa para ulama umat Islam laksana nabi-nabi Bani Israil.
Pesan ini mengajak umat untuk mendekatkan diri kepada ulama sebagai panutan dalam menuntun kehidupan keagamaan yang benar.
“Dengan penjelasan yang mendalam dan kompehensif diharapkan masyarakat dapat lebih memahami hakikat keimanan serta pentingnya toleransi dalam beragama,” pungkasnya. (LWM)

