RELUNG.ID – Puasa tidak hanya tidak hanya mendatangkan manfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga membawa kebaikan bagi kesehatan rohani.
Hal ini diukur dari keseimbangan antara kesehatan akal dan kesehatan hati.
Demikian diungkapkan Ustad Prof Dr dr Yuwono M Biomed dalam kultum Ramadan Relung Media, Kamis sore (13/3).
“Kesehatan rohani itu tidak lepas dari kesehatan akal. Dengan ilmu, seseorang mampu berpikir secara logika—membedakan mana yang benar dan salah, mana yang indah dan buruk. Inilah yang membuat akal kita hidup dan berkembang,” katanya.
Dia menekankan bahwa kemampuan logika dan penalaran merupakan aspek fundamental yang telah menjadi ciri khas manusia sebagai ‘homo sapiens sapiens’.
“Orang awam sekalipun memiliki logika yang mumpuni, selama didukung dengan ilmu dan pemahaman yang benar, akal akan menjadi sehat dan tajam.” tegasnya,
Tak kalah penting, kesehatan hati juga harus dijaga. Menurutnya, hati yang sehat adalah hati yang senantiasa mengingat Allah. Zikir, seperti ‘Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar’, berperan sebagai ‘makanan’ bagi hati.
“Melalui zikir, hati menjadi tenang dan penuh kedamaian.” ujarnya.
Zikir tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku atau berlebihan, karena yang terpenting adalah kesungguhan hati dalam mengingat Sang Pencipta.
“Baik zikir dilakukan dengan lembut maupun dengan penuh semangat, intinya adalah hati tetap terjaga dari lupa kepada Allah,” tegasnya.
Mengaitkan puasa fisik dan rohani, puasa selama bulan Ramadan yang berlangsung selama 30 hari—merupakan momentum penting untuk meningkatkan kesehatan secara menyeluruh.
“Puasa tidak hanya mengatur irama tubuh secara fisik melalui sirkadian, tapi juga menyeimbangkan kesehatan mental dan rohani melalui peningkatan keimanan dan kesadaran akan kebesaran Allah,” ujarnya.
Beliau juga menyinggung puasa sunah sebagai bentuk pelengkap, yang jika dijalankan dengan konsisten, akan membentuk pribadi yang utuh.
“Pribadi yang sehat, yang disebut sebagai ‘ulul albab’ dalam Al-Qur’an, adalah mereka yang memiliki akal, hati, dan jasmani yang seimbang. Inilah yang menjadikan seseorang paling bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.” jelasnya.
Karena itu, pentingnya menjadikan puasa sebagai sarana perbaikan diri secara menyeluruh. Sebagaimana sabda Rasulullah, ‘Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling bermanfaat’,
“Maka dengan menjaga kesehatan akal dan hati melalui ilmu dan zikir, kita tidak hanya mendapatkan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan rohani yang membawa berkah dalam hidup,” pungkasnya. (LWM)

