RELUNG.ID – Di tengah semakin menyempitnya lahan pertanian di kawasan permukiman, seorang warga Kelurahan Dusun Martapura, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur, membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak produktif.
Wawan, pria paruh baya yang sehari-hari bekerja serabutan, menjadikan halaman sempit di samping rumahnya sebagai sumber pangan sekaligus penghasilan tambahan keluarga.
Dengan lahan seluas hanya 180 meter persegi, Wawan menerapkan teknik tumpangsari, yakni sistem menanam dua atau lebih jenis tanaman dalam satu area secara bersamaan. Ia menanam cabai dan bawang merah yang kini mulai tumbuh subur dan menghijau meski baru berusia kurang dari sebulan.
“Bagi saya ini bukan cuma hobi, tapi cara bertahan hidup. Cabai dan bawang kan kebutuhan dapur sehari-hari. Kalau bisa panen, dapur aman, jual sisanya pun bisa dapat uang,” ujar Wawan saat ditemui di kebunnya, Minggu (3/8/2025).
Langkah yang dilakukan Wawan merupakan contoh konkret ketahanan pangan berbasis rumah tangga, yang selama ini kerap digalakkan oleh pemerintah namun minim realisasi di lapangan. Inovasi warga seperti ini menjadi penting di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan keterbatasan akses lahan pertanian.
Menurut Wawan, tumpangsari memberi banyak keuntungan: efisiensi lahan, peningkatan keanekaragaman hayati, serta potensi panen lebih banyak tanpa risiko gagal total. “Kalau cabai gagal, masih ada bawang. Jadi bisa saling menutupi,” imbuhnya. (MZN)

