RELUNG.ID – Lonestar Data Holdings, perusahaan teknologi berbasis luar angkasa, semakin dekat dengan misi ambisiusnya untuk membangun pusat data pertama di permukaan Bulan. Dengan memanfaatkan wahana pendarat Athena milik Intuitive Machines dan roket Falcon 9 milik SpaceX, proyek ini dijadwalkan meluncur pada akhir Februari 2025.
Freedom Data Center, nama fasilitas data yang dikembangkan Lonestar, akan menjadi tonggak baru dalam industri teknologi. Proyek ini bertujuan menciptakan solusi penyimpanan data yang lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan. CEO Lonestar, Chris Stott, menyebutkan bahwa ide membangun pusat data di Bulan merupakan langkah strategis yang memanfaatkan kondisi unik luar angkasa.
“Menggunakan satelit terbesar di Bumi sebagai titik jangkar memungkinkan kita menjaga keamanan komunikasi dengan lebih baik,” ujar Stott.
Lonestar memilih Bulan sebagai lokasi pusat data karena berbagai keuntungan yang ditawarkannya. Biaya peluncuran roket yang kini lebih terjangkau, melimpahnya energi matahari, serta sistem pendingin alami di luar angkasa menjadi faktor utama yang membuat investasi ini masuk akal.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri teknologi mengalami lonjakan permintaan akan kapasitas komputasi, terutama akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). Pusat data berbasis di Bumi membutuhkan energi dalam jumlah besar, yang dapat memperburuk krisis energi dan memperlambat upaya pengurangan emisi karbon. Dengan memindahkan pusat data ke Bulan, Lonestar berharap dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan.
Freedom Data Center nantinya akan beroperasi menggunakan solid-state drive (SSD) dengan sistem pendingin alami serta tenaga surya. Selain itu, Lonestar juga akan menyiapkan pusat cadangan berbasis darat di fasilitas Flexential, Tampa, Florida.
Misi ambisius ini telah menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah negara bagian Florida, pemerintah Isle of Man, perusahaan AI Valkyrie, serta band pop-rock Imagine Dragons, yang dikabarkan akan menggunakan layanan pusat data Bulan untuk proyek digital mereka.
Meski memiliki potensi besar, proyek ini bukan tanpa risiko. Lonestar harus menghadapi tantangan teknis yang kompleks, termasuk perawatan sistem di lingkungan luar angkasa yang ekstrem serta biaya tinggi untuk peluncuran dan operasional. Selain itu, kegagalan peluncuran roket atau kesalahan pendaratan bisa membuat seluruh proyek ini sia-sia.
“Ketika Anda meluncurkan satelit ke luar angkasa, semuanya bersifat biner. Jika gagal, maka satelit itu mati. Tidak ada cara untuk memperbaikinya,”ujar Chris Quilty, CEO perusahaan riset industri Quilty Space.
Meski begitu, dengan semakin berkembangnya teknologi luar angkasa dan meningkatnya kebutuhan akan solusi penyimpanan data berkelanjutan, proyek Lonestar ini bisa menjadi awal dari era baru dalam dunia komputasi global. Apakah pusat data di Bulan akan menjadi standar baru bagi industri teknologi? Waktu yang akan menjawab. [TRA]

