RELUNG.ID — Tekanan inflasi di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) sepanjang 2025 tidak lepas dari melonjaknya harga emas perhiasan. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025 mencapai 2,91 persen, meningkat tajam dibandingkan Desember 2024 yang hanya berada di angka 1,20 persen.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menyebut pergerakan harga emas menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan inflasi. Sepanjang tahun lalu, harga emas bahkan sempat bertengger di kisaran Rp2,5 juta per gram, memberi kontribusi signifikan terhadap pembentukan inflasi daerah.
“Tekanan terbesar datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama emas perhiasan. Komoditas ini memberi andil paling besar terhadap inflasi Sumsel tahun 2025,” kata Wahyu saat menyampaikan rilis resmi statistik, Senin (5/1/2026).
Selain emas, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah kebutuhan pokok. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,50 persen dengan andil 1,07 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang menyumbang inflasi 0,15 persen.
Menurut Wahyu, tekanan pada harga pangan tidak hanya dipicu oleh peningkatan permintaan menjelang akhir tahun, tetapi juga terganggunya pasokan akibat bencana alam di beberapa daerah pemasok, seperti Sumatra Barat.
“Sebagian pasokan pangan Sumsel berasal dari luar daerah. Ketika terjadi gangguan distribusi karena bencana, dampaknya langsung terasa pada harga,” ujarnya.
Pada level kabupaten/kota, Kota Palembang tercatat sebagai wilayah dengan inflasi tahunan tertinggi di Sumsel, yakni 2,92 persen yoy. Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Kota Lubuk Linggau dengan angka 2,87 persen yoy.
Secara bulanan (month to month/mtm), Sumsel mengalami inflasi 0,49 persen pada Desember 2025. Lagi-lagi, emas perhiasan menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap kenaikan harga.
Meski demikian, Wahyu menegaskan pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah antisipasi agar inflasi tetap terkendali dan tidak berdampak luas terhadap daya beli masyarakat.
“Upaya pengendalian terus dilakukan agar pergerakan inflasi tetap berada dalam batas yang aman,” pungkasnya.[THQ]

