RELUNG.ID — Mantan Perdana Menteri Belanda, Dries van Agt, dilaporkan telah meninggal dunia bersama istrinya, Eugenie van Agt-Krekelberg, dalam sebuah keputusan yang mengejutkan.
Keduanya memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara euthanasia, atau suntik mati, untuk mengakhiri penderitaan mereka di usia 93 tahun.
Berdasarkan laporan badan amal yang didirikan oleh Dries, keduanya meninggal dunia pada hari Senin lalu dengan saling bergandengan tangan. Mereka memilih untuk menutup mata bersama setelah menikah lebih dari 70 tahun.
Proses pemakaman keduanya akan dilakukan dalam sebuah upacara pribadi di kota Nijmegen, bagian timur Belanda. Dalam beberapa tahun terakhir, keduanya telah menghadapi kondisi kesehatan yang rapuh.
Dries, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Belanda dari 1977 hingga 1982, terkenal karena keberaniannya mengambil sikap yang tegas, terutama terkait dengan dukungannya terhadap rakyat Palestina.
Setelah meninggalkan partainya pada tahun 2017, ia mendirikan The Rights Forum, sebuah lembaga advokasi yang berjuang untuk kebijakan yang adil terkait masalah Palestina dan Israel.
Reaksi atas kematiannya telah datang dari berbagai pihak, termasuk Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, yang menganggap Dries sebagai figur yang sangat berpengaruh dalam politik Belanda.
Bahkan keluarga kerajaan Belanda juga memuji kontribusinya dalam mewarnai politik negara tersebut.
Dengan kepribadian yang mencolok dan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap prinsip-prinsip yang diyakininya, Dries van Agt meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam sejarah politik Belanda.

