RELUNG.ID – Mazda memperbarui SUV listrik EZ-60 yang dipasarkan di China dengan teknologi bantuan berkendara yang lebih canggih.
Salah satu pembaruan utama adalah penambahan sensor LiDAR yang memungkinkan kendaraan memiliki kemampuan semi-otonom lebih tinggi.
Mazda EZ-60, yang dikenal sebagai CX-6e di sejumlah pasar ekspor, baru sekitar satu tahun dipasarkan di China. Namun, perusahaan patungan Changan Mazda kini memberikan pembaruan teknologi pada SUV tersebut, baik untuk varian listrik murni maupun range extender atau EREV.
LiDAR menjadi fitur paling menonjol pada EZ-60 terbaru. Sensor yang dipasang di bagian atap tersebut bekerja bersama tiga radar gelombang milimeter, 12 sensor ultrasonik, serta 11 kamera berdefinisi tinggi untuk memantau kondisi di sekitar kendaraan.
Kombinasi berbagai sensor tersebut memungkinkan EZ-60 menjalankan fitur Navigation-on-Autopilot (NOA). Sistem ini dapat digunakan di jalan tol dengan kecepatan hingga 130 km/jam dan di lalu lintas perkotaan hingga 80 km/jam.
Mazda mengklaim sistem bantuan berkendara tersebut mampu menangani sejumlah situasi secara otomatis, termasuk melewati bundaran dan akses masuk jalan tol, berpindah lajur, hingga melakukan putar balik.
Fitur parkir otonom juga mendapat peningkatan, termasuk kemampuan menyimpan memori lokasi parkir. Seluruh sistem bantuan tersebut dikategorikan sebagai teknologi Level 2+.
Mazda juga menyebut sistem tersebut telah diuji dalam berbagai kondisi yang menantang, seperti berkendara pada malam hari ketika hujan deras hingga melewati jalan pegunungan yang sempit dengan dahan pohon menjulur ke jalur kendaraan.
Meski mendapat tambahan perangkat LiDAR di bagian atap, desain eksterior Mazda EZ-60 tidak mengalami perubahan berarti.
SUV tersebut memiliki panjang 4.850 mm. Bagian interior juga masih mempertahankan layar infotainment berukuran 26,45 inci yang membentang di dashboard hingga sisi penumpang.
Mazda juga tetap menyediakan sembilan kantong udara sebagai fitur standar. Untuk varian tertinggi, tersedia head-up display dengan teknologi augmented reality berukuran 50 inci. Ukuran proyeksinya bahkan dapat ditingkatkan hingga 100 inci sebagai fitur opsional.
Kenyamanan penumpang turut menjadi perhatian. Dua kursi depan pada varian tertentu menggunakan desain zero-gravity, dilengkapi fungsi pijat delapan titik dan dapat direbahkan hingga 120 derajat.
Di balik bodinya, EZ-60 masih menggunakan arsitektur EPA1 milik Changan. Mazda mempertahankan dua pilihan sistem penggerak, yakni kendaraan listrik murni atau BEV dan extended-range electric vehicle (EREV).
Kedua varian menggunakan motor listrik yang dipasang di roda belakang dengan tenaga 255 hp atau sekitar 190 kW.
Untuk varian BEV, Mazda membekalinya dengan baterai berkapasitas 77,94 kWh. Berdasarkan standar pengujian CLTC, jarak tempuhnya diklaim mencapai 600 kilometer.
Sementara itu, varian EREV menggunakan mesin bensin 1,5 liter dengan tenaga 97 hp atau sekitar 72 kW. Mesin tersebut tidak menggerakkan roda secara langsung, melainkan berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai berkapasitas 31,73 kWh.
Dengan konfigurasi tersebut, jarak tempuh gabungan EZ-60 EREV diklaim dapat mencapai 1.301 kilometer berdasarkan standar CLTC.
Mazda EZ-60 model tahun 2027 kini sudah dapat dipesan di China. Harga termurahnya dimulai dari 113.900 yuan atau sekitar US$17.000 untuk varian EREV 200 Air.
Sementara varian dengan teknologi LiDAR dibanderol mulai 145.900 yuan atau sekitar US$21.700 untuk EREV 200 Pro LiDAR.
Adapun varian tertinggi EV 600 Max LiDAR ditawarkan dengan harga 166.900 yuan atau sekitar US$24.900.
Belum diketahui apakah seluruh pembaruan teknologi tersebut akan turut diterapkan pada Mazda CX-6e untuk pasar ekspor.
Model yang merupakan versi ekspor EZ-60 tersebut telah dipasarkan di sejumlah negara, termasuk kawasan Eropa dan Australia. Mazda kemungkinan masih akan mengevaluasi waktu yang tepat untuk membawa teknologi LiDAR dan fitur bantuan berkendara terbaru tersebut ke pasar internasional. (LWM)

