RELUNG.ID – Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di berbagai daerah akhirnya diurai penyebab medisnya. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut ada sejumlah bakteri, virus, hingga bahan kimia yang kerap memicu insiden tersebut.
Dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Rabu (1/10), Budi memaparkan jenis-jenis patogen dan zat berbahaya yang ditemukan dalam kasus MBG.
Bakteri yang kerap menjadi penyebab keracunan:
- Salmonella
- Escherichia coli
- Bacillus cereus
- Staphylococcus aureus
- Clostridium perfringens
- Listeria monocytogenes
- Campylobacter jejuni
- Shigella
Virus yang terdeteksi:
- Norovirus/Rotavirus
- Hepatitis A Virus
Bahan kimia yang berisiko:
- Nitrit
- Scombrotoxin (Histamine)
“Dari seluruh kasus keracunan yang kita teliti, inilah penyebab-penyebabnya secara medis. Ada bakteri, virus, dan juga kimia. Hal ini penting diketahui agar bisa menentukan penanganan yang tepat,” jelas Budi.
Ia menambahkan, tiap jenis bakteri dan virus memiliki karakteristik berbeda, termasuk masa inkubasi dan gejala yang ditimbulkan. Pemahaman ini dinilai penting untuk mempercepat deteksi sumber keracunan serta memandu langkah penanganan di lapangan.
Untuk mendukung pengawasan, Kemenkes juga menyiapkan modul khusus bagi sekolah. Modul tersebut berisi panduan mengenai pola keracunan MBG, gejala yang muncul, hingga langkah awal yang bisa dilakukan guru atau pihak sekolah.
“Dengan modul itu, guru bisa langsung mengenali tanda-tanda. Misalnya, masa inkubasinya berapa lama, gejalanya apa, hingga kira-kira sumber penyebabnya dari mana,” tutur Budi.
Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana dalam kesempatan yang sama menyebut sejak Januari 2025 sudah ada sekitar 6.457 siswa yang mengalami keracunan akibat MBG. Menurutnya, sebagian besar kasus muncul karena standar operasional prosedur (SOP) tidak dijalankan dengan benar.
“Misalnya, bahan baku seharusnya dibeli maksimal H-2, tapi ada yang baru dibeli H-4. Atau proses memasak hingga distribusi yang seharusnya tidak lebih dari enam jam, bahkan optimalnya empat jam, tapi kenyataannya lebih lama,” ungkap Dadan.[THQ]

