Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Menuju Net Zero, Bisakah RUPTL 2025–2034 Wujudkan Transisi Energi?
Regional

Menuju Net Zero, Bisakah RUPTL 2025–2034 Wujudkan Transisi Energi?

alwiBy alwi27/05/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Ilustrasi Energi Terbarukan. Foto : Istock
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Pemerintah diminta memastikan strategi pelaksanaan target bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang baru saja disahkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Senin (26/5).

RUPTL 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 42,6 GW (61 persen), termasuk 17,1 GW tenaga surya, 11,7 GW tenaga air, 7,2 GW angin, 5,2 GW panas bumi, 0,9 GW bioenergi, dan 0,5 GW energi nuklir — yang kali pertama muncul dalam dokumen ini.

Selain itu, RUPTL mengalokasikan 10,3 GW penyimpanan daya (storage) berupa PLTA terpompa dan baterai. Di sisi lain, pembangunan pembangkit fosil masih mencakup 10,3 GW gas dan 6,2 GW PLTU batu bara.

Baca juga :   Liputan Energi Tak Cukup Seremoni! AJI Palembang dan Yayasan Mitra Hijau Gelar Kelas Jurnalisme Mendalam

Institute for Essential Services Reform (IESR) menyambut peningkatan porsi EBT yang lebih besar dibanding RUPTL sebelumnya, namun mengingatkan sejumlah tantangan.

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, menilai target 42,6 GW masih di bawah komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) sebesar 56 GW pada 2030, serta belum selaras dengan upaya menahan kenaikan suhu global 1,5 ℃ sesuai Persetujuan Paris.

“Realisasi EBT hingga semester I 2025 baru mencapai 1,6 GW dari target 10 GW RUPTL 2021–2030. Kegagalan menggelar lelang besar-besaran dan lama-nya proses negosiasi PPA menjadi faktor utama terhambatnya transisi energi,” katanya dikutip dari keterangan resminya, Selasa (27/5).

Baca juga :   Mengupas Strategi Calon Kepala Daerah Sumsel dalam Mendukung Energi Terbarukan

Fabby juga menyoroti masih beroperasinya 2,8 GW PLTU setelah 2030, bertentangan dengan Perpres 112/2022 yang menghendaki penghentian operasi PLTU paling lambat 2050. Selain itu, rencana pembangunan PLTN perlu kajian mendalam terkait regulasi, teknologi, dan keamanan operasional, serta dukungan publik.

Dalam hal investasi, RUPTL memproyeksikan keterlibatan produsen listrik swasta (IPP) sebesar Rp 1.341,8 triliun untuk EBT.

Manajer Program Sistem Transformasi Energi IESR, Deon Arinaldo, menyatakan bahwa dari total 333 GW potensi EBT di Indonesia, sekitar 60 persen memiliki tingkat pengembalian investasi (EIRR) di atas 10 persen sesuai tarif patokan Perpres 112/2022.

Baca juga :   Viral Video Perundungan Siswi SMP Negeri Karang Jaya, Disdik Muratara Angkat Bicara

“Memfasilitasi akses Pemanfaatan Bersama Jaringan Transmisi (PBJT) dapat mempercepat realisasi proyek EBT dan memancing partisipasi swasta. Kepastian PBJT juga membuka peluang pendapatan tambahan bagi PLN untuk mendanai pengembangan jaringan,” ujar Deon.

IESR menekankan perlunya penyesuaian kebijakan dan regulasi, kebijakan tarif yang mendukung, mekanisme lelang terjadwal dan transparan, serta peningkatan kapasitas dan kemampuan keuangan PLN.

Dengan demikian, target EBT dalam RUPTL 2025–2034 dapat terealisasi tepat waktu dan meminimalkan risiko krisis listrik jangka panjang. (ri)

Energi Baru dan Terbarukan IESR Net Zero Emission Transisi energi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleViral! Kades di Sukabumi Jaminkan STNK Pribadi Demi Biayai Warga yang Sakit
Next Article Disorot di Medsos, Menkes Budi: Niat Saya Baik, Tapi Pernyataan Saya Selalu Dipotong
alwi

Related Posts

Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20265 Views
Regional

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/20265 Views
Regional

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,885 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,757 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,731 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?